CATATAN EDITORIAL

Ketika masa depan terasa mencemaskan

Besok belum datang, tetapi kadang tubuh sudah lebih dahulu bersiap. Kalender masih menunjukkan hari ini, tidak ada kabar buruk yang baru tiba, dan banyak hal sebenarnya sedang berjalan seperti biasa. Namun perhatian sudah bergerak ke minggu depan, bulan depan, atau sesuatu yang bahkan belum mempunyai tanggal.

Kita sedang makan, tetapi kepala menghitung apa yang harus dilakukan kalau keadaan berubah. Sedang berbicara dengan seseorang, tetapi sebagian perhatian bertanya apakah hubungan ini akan tetap sama beberapa bulan lagi. Sesuatu yang baik baru saja terjadi, tetapi sebelum sempat benar-benar dinikmati muncul pikiran tentang berapa lama hal itu akan bertahan.

Tidak satu pun dari yang dikhawatirkan sedang terjadi sekarang. Tetapi pikiran manusia tidak harus menunggu sesuatu terjadi untuk mulai merasakannya.

Kemampuan membayangkan masa depan adalah bagian penting dari cara kita bertahan hidup. Kita dapat menyiapkan uang untuk kebutuhan yang belum datang, membawa payung karena langit terlihat gelap, belajar sesuatu karena tahu kelak akan membutuhkannya, atau menghindari risiko sebelum benar-benar menjadi masalah. Banyak bagian kehidupan menjadi mungkin karena kita mampu hidup sedikit di depan waktu.

Kemampuan yang sama juga membuat kita mampu menderita lebih awal.

Sebuah kemungkinan muncul. Pekerjaan mungkin berubah. Seseorang mungkin pergi. Uang mungkin tidak cukup. Sebuah keputusan mungkin membawa akibat yang tidak diinginkan. Pikiran bergerak ke depan untuk melihat apa yang mungkin menunggu, lalu menemukan bahwa di sana belum ada cukup informasi untuk memastikan apa pun.

Ruang yang belum diketahui itu sulit dibiarkan kosong. Maka kita mulai mengisinya. Satu perubahan nada menjadi kemungkinan konflik. Satu angka menjadi kemungkinan kesulitan. Sebuah jawaban yang terlambat menjadi kemungkinan penolakan. Belum ada cerita yang lengkap, tetapi kepala mulai menyusunnya agar setidaknya mempunyai sesuatu untuk dihadapi.

Dalam beberapa menit, kita dapat bergerak berbulan-bulan ke depan tanpa meninggalkan tempat duduk.

Tubuh dapat ikut menyusul. Napas berubah. Dada terasa lebih sempit. Perut tidak nyaman. Konsentrasi berkurang. Kita mungkin mengetahui bahwa yang sedang dibayangkan belum terjadi, tetapi tubuh tidak selalu membuat perbedaan setegas itu.

Masa depan belum datang, tetapi sebagian harganya sudah mulai dibayar hari ini.

Ada alasan yang masuk akal di balik kekhawatiran seperti ini. Jika sesuatu yang buruk mungkin terjadi, mengetahui lebih dahulu terasa seperti keuntungan. Jika setiap kemungkinan sudah dipikirkan, mungkin kita tidak akan terkejut. Jika skenario terburuk sudah pernah dijalani di kepala, mungkin kita akan lebih siap ketika harus menghadapinya.

Kekhawatiran kemudian mudah terasa seperti kewaspadaan. Kewaspadaan terasa seperti tanggung jawab. Berhenti memikirkan sesuatu dapat terasa hampir sama dengan menjadi ceroboh.

Orang yang mempunyai banyak tanggung jawab mungkin mengenali dorongan itu dengan baik. Ada manusia lain yang bergantung padanya. Ada pekerjaan yang tidak boleh runtuh. Ada uang yang harus cukup. Ada keputusan yang akibatnya tidak hanya ditanggung sendiri. Memikirkan masa depan memang bagian nyata dari kehidupan dewasa.

Tetapi mempersiapkan masa depan dan mencoba tinggal di sana lebih dahulu bukan hal yang sama.

Persiapan biasanya menghasilkan sesuatu. Informasi diperoleh. Dana disisihkan. Percakapan dilakukan. Pilihan dibandingkan. Dokumen disiapkan. Setelah itu, setidaknya untuk sementara, pekerjaan tersebut mempunyai ujung.

Kekhawatiran tidak selalu mempunyai ujung seperti itu. Setelah rencana pertama dibuat, muncul pertanyaan tentang bagaimana jika rencana itu gagal. Setelah jawaban diperoleh, kita mulai bertanya apakah jawaban tersebut masih akan berlaku nanti. Setiap kepastian hanya bertahan sebentar sebelum ditemukan bagian lain yang belum pasti.

Pada titik tertentu, yang dicari bukan lagi informasi. Yang dicari adalah jaminan.

Jaminan bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada. Bahwa pekerjaan akan bertahan. Bahwa keputusan yang diambil tidak akan disesali. Bahwa tubuh akan tetap mampu. Bahwa uang akan cukup. Bahwa kehidupan tidak akan berubah dengan cara yang belum siap kita hadapi.

Tidak ada manusia yang dapat memperoleh jaminan sebanyak itu. Namun sulit berhenti mencarinya ketika sesuatu yang sangat berharga terasa berada di balik ketidakpastian.

Sebagian kecemasan mempunyai sumber yang jelas. Kita memang sedang menunggu hasil, menghadapi tenggat, memikirkan keadaan finansial, atau berada dalam situasi yang belum aman. Kekhawatiran dalam keadaan seperti itu tidak muncul dari kehampaan. Ada kenyataan yang benar-benar perlu dipikirkan.

Bentuk lainnya lebih samar. Kehidupan sedang berjalan cukup baik, tetapi kita sulit mempercayai ketenangan itu. Ketika semuanya lancar, sebagian diri bertanya berapa lama. Ketika bahagia, muncul kesadaran bahwa kebahagiaan pun dapat hilang.

Yang ditakuti pada saat seperti itu mungkin bukan hanya masa depan. Kita sedang kesulitan mempercayai masa kini.

Pengalaman hidup dapat membuat kewaspadaan semacam itu sangat masuk akal. Sesuatu yang dahulu terasa stabil pernah berubah tanpa banyak peringatan. Seseorang yang diperkirakan akan tinggal ternyata pergi. Rencana yang sudah dibangun runtuh. Sebuah kabar datang dan mengubah kehidupan dalam satu hari.

Setelah mengetahui bahwa hal seperti itu mungkin terjadi, rasa aman tidak selalu kembali ke bentuk sebelumnya. Kita sudah mengetahui sesuatu tentang kehidupan yang tidak dapat dibuat tidak diketahui lagi: keadaan dapat berubah bahkan ketika kita tidak siap.

Pengetahuan itu benar. Tetapi tubuh dan pikiran dapat menarik kesimpulan yang lebih jauh darinya. Jangan terlalu nyaman. Jangan terlalu percaya. Jangan terlalu berharap. Jika kita terus bersiap terhadap kehilangan, mungkin kehilangan nanti tidak akan terasa terlalu mengejutkan.

Masalahnya, menahan diri dari kehidupan hari ini tidak menjamin rasa sakit besok menjadi lebih ringan. Kita justru dapat kehilangan sebagian dari sesuatu sebelum benar-benar kehilangannya, karena selama masih memilikinya kita terlalu sibuk membayangkan saat ia tidak lagi ada.

Kecemasan masa depan juga mudah muncul ketika sebuah keputusan terasa membawa terlalu banyak kehidupan di dalamnya. Memilih satu pekerjaan berarti tidak memilih yang lain. Tinggal berarti tidak pergi. Pergi berarti meninggalkan sesuatu yang mungkin sebenarnya masih dapat tumbuh.

Kita ingin mengetahui pilihan mana yang kelak akan membuat diri masa depan berterima kasih.

Tetapi diri masa depan tidak dapat dimintai pendapat.

Kita mengambil keputusan menggunakan informasi hari ini, sementara akibat sepenuhnya baru terlihat setelah waktu berjalan. Itulah sebabnya beberapa pilihan tetap terasa menakutkan bahkan setelah dipikirkan dengan serius. Kesulitannya bukan selalu karena kita tidak cukup pandai memilih. Kadang memang tidak semua informasi tersedia sebelum sebuah jalan dijalani.

Beberapa hal baru dapat diketahui setelah sampai di sana.

Sebuah pekerjaan dapat terlihat berbeda setelah benar-benar dilakukan. Seseorang baru dapat dikenal melalui waktu. Sebuah kota dapat terasa seperti rumah atau tidak setelah kehidupan berlangsung di dalamnya. Tidak semua jawaban tersedia di pintu masuk.

Ini bukan alasan untuk memilih sembarangan. Berpikir, mencari fakta, membandingkan risiko, dan mendengarkan keraguan tetap penting. Tetapi ada titik ketika tambahan pemikiran tidak lagi menambah peta. Kita hanya melihat bagian yang sama semakin lama.

Ketidakpastian kemudian dapat mulai dibaca sebagai tanda buruk. Belum ada kabar berarti kabarnya mungkin buruk. Seseorang belum menjawab berarti mungkin ada masalah. Hasil belum keluar berarti kemungkinan terburuk mulai terasa semakin dekat.

Di sinilah dua kata sederhana mempunyai pekerjaan yang besar: belum tahu.

Bukan semuanya akan baik-baik saja. Bukan pula sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Hanya belum tahu.

Kalimat itu tidak menghilangkan rasa takut. Ia hanya menahan sesuatu yang belum menjadi kenyataan agar tidak terlalu cepat diperlakukan sebagai kenyataan.

Zaman sekarang memberi kita banyak cara untuk mencari sedikit kepastian. Kita dapat membaca pengalaman orang lain, melihat statistik, membandingkan pilihan, mencari pendapat, mengikuti berita, dan memeriksa hampir apa pun dalam hitungan detik. Informasi seperti itu dapat sangat berguna.

Tetapi informasi mempunyai batas. Setelah batas tertentu, pencarian yang awalnya membantu kita memahami dapat berubah menjadi usaha memperoleh jaminan yang memang tidak tersedia. Satu pertanyaan membawa lima artikel. Lima artikel membuka sepuluh kemungkinan baru. Kita mulai dengan ingin merasa lebih siap dan berakhir dengan lebih banyak hal yang harus ditakuti.

Kemungkinan tidak menjadi lebih dekat hanya karena kita mampu membayangkannya.

Pikiran manusia dapat membuat banyak skenario. Kecemasan dapat membuat setiap skenario terasa seperti sesuatu yang wajib dipersiapkan. Kalau ini mungkin terjadi, bukankah kita harus memikirkannya? Kalau itu juga mungkin, bukankah harus dipikirkan juga?

Tidak ada ujung alami jika syarat untuk merasa aman adalah memastikan tidak ada satu pun hal buruk yang mungkin terjadi.

Ada alasan lain mengapa masa depan dapat terlihat terlalu besar. Kita sering membayangkan diri kita menghadapi kehidupan bertahun-tahun dari sekarang menggunakan sumber daya yang kita miliki hari ini. Tenaga hari ini. Pengetahuan hari ini. Uang hari ini. Hubungan hari ini. Keberanian hari ini.

Tentu saja gambaran itu dapat terasa tidak tertanggungkan.

Tetapi orang yang akan tiba pada masa itu tidak sepenuhnya sama dengan orang yang sedang berada di sini. Di antara hari ini dan waktu yang sedang dibayangkan, kita juga akan berubah. Kita akan mengetahui hal yang sekarang belum diketahui. Belajar melakukan sesuatu yang sekarang belum mampu dilakukan. Bertemu orang yang belum dikenal. Mengubah pikiran tentang sesuatu yang hari ini terasa sangat penting.

Sebagian keadaan mungkin memang menjadi lebih sulit. Sebagian dari kita mungkin juga menjadi lebih mampu.

Kecemasan sering memberikan masa depan seluruh perkembangannya, tetapi membekukan diri kita di keadaan sekarang. Ancaman bergerak. Kemampuan kita tidak.

Melihat hal itu bukan berarti menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak semua ketakutan akhirnya terbukti salah. Kehidupan benar-benar dapat membawa kehilangan, kegagalan, penyakit, perubahan, dan keputusan yang setelah dijalani ternyata tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Bagian sulitnya bukan menemukan cara agar seluruh kemungkinan buruk itu tidak pernah terjadi. Kita memang tidak mempunyai kuasa sebesar itu.

Kita dapat melakukan bagian kita dan tetap tidak memegang seluruh hasil. Sebuah hubungan juga bergantung pada manusia lain. Pekerjaan dipengaruhi keadaan yang lebih besar daripada satu orang. Tubuh mempunyai batasnya sendiri. Waktu mengubah hal-hal yang tidak meminta izin.

Bagi pikiran yang terbiasa menjaga, batas kendali seperti itu dapat terasa sangat tidak nyaman. Selama masih ada sesuatu yang dapat dilakukan, kita dapat bergerak. Yang lebih sulit adalah ketika bagian kita sudah selesai dan kehidupan belum memberikan jawabannya.

Lalu kita harus menunggu.

Menunggu hasil. Menunggu kabar. Menunggu seseorang membuat keputusan. Menunggu tubuh menunjukkan perkembangannya. Menunggu sebuah keadaan cukup jelas untuk diketahui apa yang harus dilakukan berikutnya.

Menunggu sering terlihat seperti tidak melakukan apa-apa. Dari dalam, ia dapat sangat melelahkan. Kita harus menjalani hari biasa sementara sesuatu yang penting belum mempunyai bentuk.

Hari-hari itu mudah berubah menjadi ruang transit. Secara batin kita menahan kehidupan sampai jawabannya datang. Setelah ini jelas, baru saya bisa tenang. Setelah masalah ini selesai, baru saya bisa menikmati hidup.

Kemudian satu jawaban akhirnya datang. Ada kelegaan. Setelah beberapa waktu, kehidupan membuka pertanyaan berikutnya.

Jika seluruh masa depan harus menjadi aman sebelum kita mengizinkan diri berada di masa kini, izin itu mungkin tidak pernah benar-benar datang.

Banyak hal penting memang dibangun tanpa mengetahui bagaimana akhirnya. Kita mencintai tanpa jaminan akan selalu mempunyai orang yang dicintai. Memulai sesuatu tanpa mengetahui apakah akan berhasil. Membesarkan anak tanpa tahu persis siapa ia kelak. Membuat rencana di dunia yang tidak pernah berhenti berubah.

Ketidakpastian tidak selalu merupakan tanda bahwa sesuatu sedang salah. Kadang ia hanya bagian dari mempunyai masa depan.

Hal yang membuat masa depan menakutkan dan hal yang membuatnya masih mempunyai kemungkinan berasal dari kenyataan yang sama: kita belum tahu.

Pada hari yang cemas, ketidaktahuan itu terasa seperti ancaman. Tetapi yang belum diketahui juga mencakup hal-hal yang sekarang belum dapat kita bayangkan. Pertolongan yang belum datang. Kemampuan yang belum dimiliki. Orang yang belum ditemui. Jalan yang belum terlihat.

Bukan berarti semua kemungkinan harus dibuat optimistis. Masa depan tidak perlu dipaksa menjadi indah agar dapat dibiarkan tetap terbuka.

Sementara kepala bergerak jauh ke depan, sesuatu yang lebih sunyi dapat terjadi di masa kini. Percakapan tidak benar-benar terdengar. Makanan selesai tanpa terasa. Hari libur lewat tetapi tidak pernah benar-benar dimasuki. Seseorang yang kita cintai sedang berada di depan kita, sementara perhatian sibuk dengan hari ketika ia mungkin tidak lagi ada.

Masa depan dapat mengambil sebagian masa kini tanpa pernah benar-benar datang.

Tidak ada alasan untuk menambahkan rasa bersalah di atas kecemasan itu. Kecemasan sering menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kita anggap sangat berharga dan sangat ingin dijaga.

Keamanan. Seseorang. Pekerjaan. Kebebasan. Kestabilan. Harapan. Kehidupan yang telah susah payah dibangun.

Wajar jika kemungkinan kehilangan sesuatu yang berharga menimbulkan takut. Tetapi menjaga tidak selalu berarti membayangkan seluruh cara sesuatu dapat hilang.

Kadang sebuah hubungan lebih membutuhkan kehadiran kita sekarang daripada kecemasan tentang apakah ia akan selalu bertahan. Tubuh mungkin lebih membutuhkan istirahat malam ini daripada seluruh kemungkinan tentang apa yang kelak dapat terjadi padanya. Masalah uang memerlukan perhatian pada angka yang nyata, bukan setiap bencana yang mungkin dapat dibayangkan.

Masa depan tetap perlu dipikirkan. Beberapa bagian memang perlu dipersiapkan dengan serius. Tetapi peduli tidak sama dengan terus memegang sebuah persoalan setiap menit.

Ada waktu ketika pikiran memang mempunyai pekerjaan. Ada pula waktu ketika tidak ada informasi baru, tidak ada keputusan yang dapat dibuat, dan tidak ada tindakan lain yang tersedia sampai kehidupan memberikan bagian berikutnya.

Pada saat seperti itu, persoalannya belum selesai. Hanya belum ada sesuatu yang dapat diselesaikan sekarang.

Jika kecemasan sampai terus mengganggu tidur, makan, pekerjaan, hubungan, atau membuat kehidupan sehari-hari sangat sulit dijalani, kehadiran orang yang dipercaya atau bantuan profesional dapat menjadi penting. Bukan karena ketidakpastian harus dihilangkan, tetapi karena tidak semua beban perlu ditanggung sendirian.

Kepercayaan terhadap masa depan tidak harus berarti yakin semuanya akan berjalan baik. Kita tidak mempunyai dasar untuk menjanjikan itu kepada diri sendiri.

Mungkin bentuk kepercayaan yang lebih sederhana adalah mengetahui bahwa kita tidak harus menghadapi seluruh hari yang mungkin datang pada hari ini.

Ketika suatu hari benar-benar tiba, keadaan akan mempunyai bentuk yang lebih nyata. Kita akan mengetahui hal yang sekarang belum diketahui. Pilihan yang ada akan menjadi pilihan sungguhan, bukan seluruh kemungkinan yang sedang dibuat oleh kepala.

Kita mungkin tetap takut.

Kita mungkin juga mempunyai sesuatu yang hari ini belum kita punya.

Tetapi kita akan menemuinya dari hari itu, bukan dari sini.

Untuk sekarang, masa depan masih berada di tempatnya.

Ia akan datang sendiri, tanpa perlu kita hidup di sana lebih dahulu.