CATATAN EDITORIAL

Ketika Anda ingin menghindari sesuatu

Menghindar sering mempunyai reputasi yang buruk. Kita menyebut diri pengecut karena tidak berani menghadapi percakapan. Malas karena terus menunda pekerjaan. Tidak dewasa karena membiarkan pesan belum terjawab. Kita melihat sesuatu yang sudah berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun tidak disentuh, lalu menyimpulkan bahwa masalahnya sederhana: kita kurang disiplin. Kadang memang ada sesuatu yang perlu kita lakukan dan kita terus menundanya. Tetapi perilaku yang terlihat sederhana dari luar dapat mempunyai alasan yang jauh lebih rumit dari dalam.

Ada hal yang kita hindari bukan karena tidak penting. Justru karena terlalu penting.

Sebuah pesan dapat terasa berat karena apa pun isinya mungkin mengubah sesuatu. Sebuah hasil pemeriksaan sulit dibuka karena selama belum dibuka, masih ada ruang untuk tidak mengetahui. Sebuah percakapan terus ditunda karena kita tahu setelah kata-kata tertentu diucapkan, hubungan mungkin tidak kembali ke bentuk semula. Kadang penundaan memberi kita beberapa jam tambahan sebelum kenyataan benar-benar masuk. Dan beberapa jam itu terasa berharga.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menjauh dari sesuatu yang dianggap mengancam. Kemampuan itu bukan cacat. Dalam banyak keadaan, ia melindungi. Jika sebuah tempat tidak aman, menjauh adalah tindakan yang masuk akal. Jika seseorang berulang kali melukai, menjaga jarak dapat menjadi bentuk perlindungan. Jika tubuh dan pikiran sedang terlalu penuh, menunda sebuah percakapan sampai kita mempunyai kapasitas yang lebih baik kadang jauh lebih bijaksana daripada memaksakan diri masuk ke dalamnya.

Tidak semua penghindaran harus dihentikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa sebenarnya yang sedang kita hindari, dan apa yang sedang dicoba dilindungi oleh jarak itu?

Dua orang dapat melakukan tindakan yang terlihat sama tetapi berada dalam keadaan yang sangat berbeda. Seseorang tidak menjawab pesan karena ingin menghukum orang lain. Seseorang lain tidak menjawab karena setiap kali membuka percakapan itu tubuhnya menegang. Seseorang menunda pekerjaan karena memang tidak ingin mengerjakannya. Orang lain terus menunda karena pekerjaan itu sudah begitu lama dikaitkan dengan ketakutan gagal sampai membuka dokumennya saja memunculkan rasa tidak nyaman. Perilakunya sama. Maknanya belum tentu. Itulah mengapa memberi nama malas terlalu cepat kadang membuat kita kehilangan kesempatan memahami sesuatu yang lebih penting. Kita hanya melihat bahwa diri tidak bergerak. Kita tidak melihat apa yang membuat gerakan terasa begitu mahal.

Ada jenis penghindaran yang berhubungan dengan rasa takut akan akibat. Kita tidak membuka tagihan karena takut melihat angkanya. Tidak memeriksa rekening karena takut memastikan bahwa keadaan memang seburuk yang dibayangkan. Tidak pergi ke dokter karena selama belum diperiksa, kemungkinan buruk masih berupa kemungkinan. Logikanya mungkin terdengar aneh ketika dilihat dari luar. Tidak mengetahui tidak mengubah kenyataan. Tetapi secara emosional, mengetahui dapat terasa seperti saat ketika sesuatu menjadi resmi. Selama belum dilihat, kita masih berada di antara beberapa kemungkinan. Begitu angka terlihat, diagnosis diketahui, atau jawaban dibaca, sebagian kemungkinan hilang. Jadi terkadang yang dihindari bukan informasinya. Yang dihindari adalah perubahan dari mungkin menjadi nyata.

Ada pula hal yang kita hindari karena berkaitan dengan kemungkinan gagal. Sebuah pekerjaan penting terus tidak dimulai. Lamaran tidak pernah dikirim. Tulisan disimpan di folder tetapi tidak pernah diterbitkan. Kita mengatakan bahwa belum siap, masih perlu sedikit perbaikan, atau akan melakukannya ketika keadaan lebih tenang. Kadang semua alasan itu benar. Tetapi kadang ada sesuatu yang lain. Selama belum mencoba, kita belum benar-benar gagal. Selama karya belum keluar, kita masih dapat membayangkan bahwa hasilnya mungkin sangat baik. Selama permintaan belum diajukan, kita belum ditolak. Penghindaran memberi perlindungan dari jawaban. Harganya adalah kita juga tidak pernah mendapatkan kesempatan menerima jawaban yang berbeda. Ada keamanan tertentu dalam sesuatu yang belum diuji. Potensi tetap utuh. Harapan tidak mendapat kesempatan dibantah. Dan kita dapat terus berkata kepada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, ketika sudah benar-benar siap, kita akan melakukannya.

Masalahnya, kesiapan sempurna jarang datang. Kadang yang kita tunggu bukan kesiapan. Kita sedang menunggu hilangnya rasa takut.

Dan keduanya bukan hal yang sama. Seseorang dapat takut dan tetap cukup siap. Itu perbedaan yang penting.

Ada penghindaran lain yang tidak berkaitan dengan kemungkinan gagal, tetapi dengan kemungkinan berhasil. Keberhasilan juga dapat mengubah hidup. Sebuah kesempatan baru mungkin berarti meninggalkan tempat yang sudah dikenal. Sebuah hubungan yang menjadi serius membawa kemungkinan kehilangan yang lebih besar. Mengatakan ya pada sesuatu dapat membuat kita harus meninggalkan identitas lama atau harapan orang lain. Kita kadang membayangkan bahwa manusia hanya takut pada hal buruk. Tidak selalu. Kita juga dapat takut kepada kehidupan yang akan menjadi berbeda jika sesuatu yang baik benar-benar terjadi. Perubahan tetap perubahan. Tubuh tidak selalu membedakan dengan rapi antara sesuatu yang baru dan sesuatu yang berbahaya. Maka kita menghindari kesempatan yang sebenarnya kita inginkan, lalu kebingungan melihat diri sendiri. Kenapa saya melakukan ini? Bukankah ini yang selama ini saya tunggu? Mungkin benar. Tetapi menginginkan sesuatu tidak berarti seluruh diri langsung siap menerima semua konsekuensi dari mendapatkannya.

Ada pula penghindaran yang tumbuh dari malu. Kita membuat kesalahan dan tidak berani kembali. Semakin lama tidak muncul, semakin malu untuk muncul. Pesan yang awalnya terlambat dibalas satu hari menjadi satu minggu. Setelah satu minggu, kita merasa harus mempunyai penjelasan yang sangat baik. Karena tidak mempunyai penjelasan yang cukup baik, kita menunggu lagi. Waktu menambah berat pada sesuatu yang awalnya kecil. Lalu kita mulai menghindari bukan hanya pesan. Kita menghindari orangnya. Tempatnya. Percakapan tentangnya. Bahkan mungkin orang lain yang dapat mengingatkan kita pada hal tersebut. Penghindaran mempunyai kemampuan untuk tumbuh. Sesuatu yang awalnya hanya satu pintu tertutup perlahan dapat membuat kita menghindari seluruh lorong.

Ini salah satu alasan mengapa penghindaran terasa begitu efektif pada awalnya. Ketika kita menjauh, rasa tidak nyaman sering turun. Kita tidak membuka email, lalu untuk beberapa menit merasa lebih ringan. Membatalkan pertemuan membuat ketegangan berkurang. Menunda telepon memberi rasa lega. Tubuh belajar dengan sangat cepat dari rasa lega itu. Ketika saya menjauh, saya merasa lebih baik. Maka lain kali dorongan untuk menjauh menjadi sedikit lebih kuat. Bukan karena kita lemah. Karena sistem kita belajar bahwa menghindar berhasil mengurangi rasa tidak nyaman dalam jangka pendek.

Masalahnya baru terlihat kemudian. Yang kita hindari masih ada. Kadang bahkan menjadi lebih besar. Tagihan mendapat denda. Percakapan menjadi semakin canggung. Pekerjaan semakin dekat ke tenggat. Rasa takut terhadap sesuatu yang tidak pernah kita dekati tidak mendapat kesempatan mengetahui bahwa mungkin kita sebenarnya mampu menghadapinya. Kelegaan jangka pendek membeli masalah dengan harga yang dibayar kemudian.

Tetapi mengetahui hal itu saja tidak otomatis membuat kita berhenti. Jika cukup hanya dengan logika, hampir semua orang yang menunda sudah lama berhenti menunda. Sering kali kita membutuhkan sesuatu yang lebih spesifik daripada perintah hadapi saja. Kita perlu mengetahui apa yang membuatnya terasa sulit.

Kadang persoalannya terlalu besar. Kita membayangkan mengurus masalah keuangan, padahal frasa itu berisi puluhan hal. Memeriksa rekening, menghitung kewajiban, menjawab pesan, membuat keputusan, menghubungi orang, dan mungkin mengakui sesuatu yang selama ini tidak ingin diakui. Dibayangkan sekaligus, semuanya terasa seperti satu dinding. Padahal mungkin tindakan pertama hanya membuka satu amplop. Atau melihat satu angka. Bukan untuk menyelesaikan seluruh keadaan. Hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di depan kita. Ada perbedaan besar antara mendekati sesuatu dan menyelesaikannya.

Kadang kita menghindari karena menganggap begitu mulai, kita harus menyelesaikan semuanya. Padahal tidak. Kita boleh membuka pesan tanpa langsung menjawab. Boleh membaca sebuah dokumen tanpa langsung mengambil keputusan. Boleh datang ke tempat tertentu dan pulang setelah beberapa menit. Boleh memulai percakapan dengan mengatakan bahwa kita belum tahu bagaimana menyelesaikannya. Mendekat tidak selalu berarti menyerahkan seluruh kendali. Kita dapat memilih jarak. Kecepatan. Waktu. Dan dalam banyak keadaan, hal kecil seperti itu mengubah rasa yang sebelumnya tampak tidak mungkin menjadi sesuatu yang masih berat, tetapi dapat disentuh.

Ada hal lain yang perlu dibedakan dengan hati-hati: ketidaknyamanan dan bahaya. Keduanya dapat terasa mirip di tubuh. Sebuah percakapan sulit dapat membuat dada berdebar. Mengatakan tidak kepada seseorang dapat membuat tangan dingin. Memasuki ruangan yang mengingatkan pada pengalaman buruk dapat membuat tubuh ingin pergi. Tetapi tidak setiap rasa tidak nyaman berarti kita berada dalam bahaya. Di sisi lain, tidak setiap dorongan untuk menghindar harus dilawan demi keberanian.

Jika seseorang kasar, mengancam, mengontrol, melakukan kekerasan, atau berulang kali melanggar batas, keinginan menjaga jarak dapat membawa informasi yang sangat penting. Kita tidak perlu melatih diri untuk tahan terhadap semua hal. Ada situasi yang memang layak ditinggalkan. Ada orang yang memang perlu dijauhi. Ada keadaan di mana tidak kembali adalah keputusan yang sehat.

Keberanian bukan kemampuan untuk tetap tinggal di setiap tempat yang membuat kita takut. Kadang keberanian adalah mengakui bahwa sebuah tempat tidak aman meskipun orang lain mengatakan kita terlalu sensitif. Karena itu, sebelum meminta diri mendekati sesuatu yang selama ini dihindari, ada pertanyaan yang layak mendapat tempat: Apakah saya menjauh karena ini berbahaya, atau karena ini terasa sangat tidak nyaman?

Jawabannya tidak selalu langsung jelas. Kadang kita membutuhkan orang lain untuk membantu melihatnya. Terutama jika pengalaman lama sudah membuat batas antara bahaya dan ketidaknyamanan terasa kabur. Ada orang yang setelah lama hidup dalam situasi tidak aman justru terbiasa bertahan terlalu lama. Ada pula yang setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan menjadi sangat waspada bahkan pada keadaan yang sebenarnya berbeda. Kedua respons itu dapat dimengerti. Keduanya menunjukkan bahwa tubuh belajar dari apa yang pernah terjadi. Yang diperlukan bukan memaksa tubuh melupakan pelajarannya. Kita perlu membantunya membedakan kapan pelajaran lama masih sesuai dan kapan keadaan baru membutuhkan pembacaan baru.

Ada penghindaran yang lebih sunyi. Bukan menghindari tempat, orang, atau tugas. Kita menghindari perasaan. Hari dibuat selalu penuh supaya tidak sempat berpikir. Musik terus menyala. Telepon selalu di tangan. Kita bekerja lebih lama, keluar lebih sering, memindahkan perhatian dari satu layar ke layar lain. Tidak ada yang salah dengan hiburan. Tidak semua waktu harus digunakan untuk merenung. Tetapi kadang kesibukan mempunyai fungsi lain. Selama masih bergerak, sesuatu tidak sempat mengejar. Lalu malam datang. Suara di luar berkurang. Dan apa yang sepanjang hari berhasil dijauhkan duduk kembali di samping kita.

Ada alasan manusia melakukan ini. Sebagian perasaan memang menakutkan ketika belum pernah benar-benar didekati. Kita khawatir jika mulai menangis, kita tidak akan berhenti. Jika mulai mengingat, semuanya akan kembali. Jika mengakui bahwa kita marah, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kemarahan itu. Maka menjauh terasa seperti satu-satunya cara menjaga diri tetap berfungsi. Untuk sementara, mungkin memang begitu.

Tidak semua hal harus diproses pada saat pertama muncul. Manusia mempunyai kapasitas terbatas. Ada masa ketika bertahan melewati hari memang lebih penting daripada menggali seluruh makna dari apa yang terjadi. Tetapi sesuatu yang terus tidak mendapat tempat kadang mencari jalan sendiri untuk muncul. Dalam tidur. Dalam tubuh. Dalam ledakan emosi terhadap hal kecil. Dalam kelelahan yang sulit dijelaskan. Dalam pola hubungan yang berulang. Bukan berarti setiap gejala mempunyai satu penyebab tersembunyi. Hanya saja manusia tidak selalu berhasil meninggalkan pengalaman di tempat ketika ia memilih untuk tidak memikirkannya. Kadang yang tidak kita bicarakan tetap ikut berjalan.

Ada penghindaran yang terlihat seperti perfeksionisme. Kita belum mulai karena belum tahu cara melakukannya dengan benar. Belum mengirim karena masih ada yang perlu diperbaiki. Belum berbicara karena belum menemukan kata yang sempurna. Kita mengatakan sedang mempersiapkan diri. Kadang memang benar. Tetapi persiapan dapat menjadi tempat bersembunyi yang sangat nyaman. Selama masih mempersiapkan, kita belum harus menghadapi hasil nyata. Kita belum harus melihat apakah tulisan diterima. Apakah orang lain memahami. Apakah keputusan ternyata keliru. Kesempurnaan menjanjikan sesuatu yang sangat menggoda: jika semuanya dilakukan dengan benar, mungkin kita dapat mengendalikan akibat.

Hidup jarang memberikan jaminan seperti itu. Ada percakapan yang tetap berjalan buruk meskipun kita memilih kata dengan hati-hati. Ada keputusan yang dibuat dengan pertimbangan matang tetapi tetap menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan. Ada pekerjaan bagus yang ditolak. Ada tindakan tulus yang disalahpahami. Kita dapat mempersiapkan. Tidak dapat mengendalikan semuanya. Menerima batas itu sering menjadi bagian dari berhenti menghindar. Karena banyak penghindaran sebenarnya bukan usaha menghindari tindakan. Ia adalah usaha menghindari ketidakpastian setelah tindakan.

Ada pula pengalaman ketika kita sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tetap tidak melakukannya. Ini sering menjadi tempat paling mudah untuk menghina diri. Saya sudah tahu. Kenapa masih begini? Pengetahuan dan kesiapan bukan hal yang sama.

Seseorang dapat memahami dengan sangat baik bahwa hubungan tertentu tidak sehat tetapi belum siap pergi. Dapat tahu bahwa sebuah kebiasaan menyakitinya tetapi masih menggunakannya untuk bertahan. Dapat tahu bahwa ia perlu meminta bantuan tetapi merasa sangat sulit mengatakan kepada orang lain bahwa ia tidak sanggup. Mengetahui adalah bagian penting. Tetapi perubahan juga melibatkan rasa aman, kebiasaan, identitas, dukungan, sumber daya, dan kadang kehilangan yang akan datang bersama perubahan itu sendiri. Karena itu kita bisa berhenti melihat penghindaran hanya sebagai pertarungan antara tahu dan tidak mau. Kadang yang lebih jujur adalah: Saya tahu ke mana saya perlu bergerak, tetapi ada bagian diri yang belum merasa aman untuk bergerak ke sana.

Kalimat itu tidak membebaskan kita dari semua tanggung jawab. Tetapi ia memberi sesuatu yang lebih berguna daripada penghinaan. Kita dapat mulai bertanya apa yang diperlukan agar langkah itu sedikit lebih mungkin. Apakah informasi? Waktu? Teman? Batas yang lebih jelas? Rencana keluar? Bantuan profesional? Atau sekadar ukuran langkah yang lebih kecil?

Ada sesuatu yang sangat manusiawi tentang membutuhkan orang lain ketika menghadapi hal yang selama ini dihindari. Beberapa pintu memang lebih mudah dibuka ketika kita tahu ada seseorang di belakang kita. Kita dapat meminta seseorang menemani ke dokter. Duduk bersama saat membuka surat. Menunggu setelah percakapan sulit. Membantu melihat angka tanpa menghakimi. Mendengar cerita yang sudah lama kita simpan tanpa buru-buru memberi kesimpulan. Kehadiran tidak selalu menyelesaikan masalah. Tetapi ia mengubah cara tubuh membaca keadaan.

Hal yang tadinya terasa seperti saya harus menghadapi ini sendirian menjadi saya tetap harus menghadapinya, tetapi saya tidak sendirian saat melakukannya. Perbedaan itu kadang sangat besar.

Pada titik seperti itu, pertanyaan yang muncul bisa sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari: Kenapa saya selalu menghindari masalah? Kenapa saya terus menunda sesuatu yang penting? Kenapa saya takut membuka pesan? Kenapa saya menghindari orang tertentu? Kenapa saya tahu harus melakukan sesuatu tetapi tetap tidak bisa memulai? Mungkin kita bukan sedang mencari cara untuk menjadi lebih berani dalam satu malam. Mungkin kita sedang mencoba memahami mengapa sesuatu yang secara logis sederhana terasa begitu sulit untuk didekati. Jawabannya tidak selalu satu. Bisa jadi takut gagal. Takut tahu. Takut berubah. Takut ditolak. Malu. Kelelahan. Pengalaman lama. Kebutuhan akan perlindungan. Atau hanya karena sesuatu itu memang sangat berat. Mengetahui perbedaannya penting, sebab kita tidak ingin memperlakukan semua penghindaran dengan obat yang sama. Ada hal yang perlu didekati perlahan. Ada hal yang perlu dipersiapkan. Ada hal yang perlu dibicarakan dengan orang lain. Ada hal yang perlu bantuan profesional. Dan ada hal yang justru perlu kita beri izin kepada diri untuk tidak kembali kepadanya.

Tidak semua pintu harus dibuka. Kedewasaan bukan tentang berani membuka semuanya.

Mungkin tentang mengetahui pintu mana yang menyimpan hidup yang masih ingin kita jalani, dan pintu mana yang selama ini tertutup karena memang melindungi kita dari sesuatu yang tidak perlu dimasuki lagi.

Untuk hal yang memang perlu didekati, langkah pertama kadang tidak terasa seperti keberanian besar. Ia bisa sangat biasa. Membuka email tanpa menjawab. Menuliskan nomor telepon tanpa menelepon. Membuat janji dan memberi diri waktu sampai hari itu datang. Menulis kalimat pertama. Mengatakan kepada seseorang, ada sesuatu yang sudah lama saya hindari. Tidak harus sekaligus. Karena tujuan awalnya bukan membuktikan bahwa kita tidak takut. Tujuannya hanya mengubah hubungan dengan sesuatu yang selama ini selalu membuat kita menjauh. Sedikit mendekat. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian memutuskan lagi.

Kadang setelah mendekat kita menemukan bahwa ketakutannya lebih besar daripada kenyataannya. Kadang ternyata memang berat, persis seperti yang dikhawatirkan. Tetapi bahkan itu memberi sesuatu yang sebelumnya tidak kita miliki.

Kenyataan.

Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan bayangan yang terus tumbuh karena tidak pernah diperiksa. Dan kenyataan, meskipun sulit, sering mempunyai bentuk yang lebih jelas daripada ketakutan. Sesuatu yang mempunyai bentuk dapat mulai dihadapi.

Ada kemungkinan kita tetap mundur lagi. Itu tidak selalu berarti gagal. Manusia mendekati hal sulit dengan gerakan yang tidak lurus. Satu hari berani membuka sedikit. Hari berikutnya menutup lagi. Kemudian mencoba lagi ketika mempunyai ruang lebih besar. Yang penting mungkin bukan seberapa cepat jarak itu hilang. Lebih penting mengetahui apakah kita perlahan mempunyai lebih banyak pilihan daripada sebelumnya.

Sebab penghindaran menjadi paling menyempitkan ketika kita merasa tidak punya pilihan selain menjauh. Ketika suatu hari kita dapat berkata, saya masih takut, tetapi saya bisa memilih apakah hari ini mendekat atau belum, sesuatu sudah berubah. Rasa takut mungkin masih ada. Tetapi ia tidak lagi mempunyai seluruh kendali. Dan mungkin itulah bentuk keberanian yang lebih manusiawi daripada gambaran kita selama ini. Bukan orang yang tidak ingin lari. Melainkan seseorang yang memahami mengapa ia ingin lari, memastikan apakah ia memang perlu pergi, lalu jika ternyata ada sesuatu yang penting di depan, memilih mendekatinya sejauh yang mampu dilakukan hari itu.

Tidak lebih cepat dari yang aman.

Tidak lebih lambat hanya karena takut.

Cukup dekat untuk mulai melihat apa yang sebenarnya ada di sana.