CATATAN EDITORIAL

Ketika hidup terasa kosong atau tanpa arah

Ada masa ketika hidup tidak sedang runtuh, tetapi juga tidak terasa benar-benar bergerak. Hari tetap datang. Kita bangun, melakukan apa yang perlu dilakukan, berbicara dengan orang, menyelesaikan pekerjaan, makan, pulang, lalu tidur. Dari luar mungkin tidak ada sesuatu yang tampak sangat salah. Tetapi di suatu tempat di dalam diri muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: Untuk apa semua ini?

Kadang pertanyaan itu bahkan tidak datang sebagai kalimat. Ia muncul sebagai rasa datar ketika pagi dimulai. Akhir pekan datang, tetapi tidak ada sesuatu yang benar-benar ditunggu. Kabar baik masih dapat membuat senang, hanya saja perasaan itu cepat lewat. Kita membuka ponsel tanpa tahu apa yang dicari, berpindah dari satu hal ke hal lain, lalu menyadari bahwa mungkin kita hanya sedang mencoba membuat waktu bergerak.

Kehidupan seperti ini dapat tetap terlihat baik dari luar. Pekerjaan selesai. Tagihan dibayar. Orang-orang tetap ditemui. Kita masih dapat tertawa, membuat rencana, bahkan menikmati beberapa bagian hari. Yang hilang bukan selalu kemampuan untuk menjalani hidup. Kadang yang hilang adalah sesuatu yang membuat kita merasa tertarik untuk menjalaninya.

Itulah sebabnya rasa kosong dan kehilangan arah sulit dijelaskan. Keduanya tidak selalu berarti kita tidak mempunyai apa-apa. Justru kadang hampir semuanya masih ada. Yang berubah adalah hubungan kita dengan hal-hal tersebut. Sesuatu yang dahulu terasa penting sekarang terasa lebih jauh. Sesuatu yang dahulu cukup untuk membuat kita bergerak tidak lagi mempunyai daya yang sama.

Perubahan itu kadang mempunyai awal yang jelas. Sebuah pekerjaan berakhir. Hubungan yang dahulu menjadi tempat membayangkan masa depan tidak lagi ada. Anak yang bertahun-tahun sangat membutuhkan kita mulai mempunyai dunianya sendiri. Seseorang yang selalu ada tiba-tiba tidak ada. Yang hilang pada saat seperti itu bukan hanya orang, pekerjaan, atau keadaan. Kita juga dapat kehilangan struktur yang selama ini diam-diam menjawab pertanyaan tentang apa yang perlu dilakukan besok pagi.

Selama sebuah peran masih meminta banyak dari kita, hampir tidak ada ruang untuk bertanya siapa kita di luar peran itu. Kita mengurus, menjaga, bekerja, mengejar, menyelesaikan, bertahan. Ketika kebutuhan tersebut berkurang atau berhenti, yang datang tidak selalu kelegaan. Kadang justru keheningan. Kita mengetahui cara menjadi orang yang dahulu dibutuhkan, tetapi belum tahu siapa diri kita ketika kebutuhan itu berubah.

Kehilangan arah juga dapat datang dari arah yang tampaknya berlawanan. Bukan karena sesuatu gagal, tetapi karena sesuatu akhirnya berhasil.

Ada tujuan yang begitu lama berada di depan sehingga jarak menuju tujuan itu ikut menyusun kehidupan. Lulus. Mendapat pekerjaan. Membangun usaha. Menikah. Membesarkan anak. Melunasi sesuatu. Membuktikan bahwa kita mampu. Selama tujuan itu belum tercapai, pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan berikutnya relatif mudah dijawab.

Lalu suatu hari kita sampai.

Kebahagiaan dapat benar-benar ada di sana. Kebanggaan juga. Tetapi setelah kegembiraan awal surut, kehidupan kembali menjadi kehidupan sehari-hari. Kita bangun pada pagi yang biasa sebagai orang yang sama, hanya dengan satu tujuan besar yang sekarang sudah berada di belakang. Pada saat itulah pertanyaan Setelah ini apa? dapat muncul dengan cara yang mengejutkan.

Pertanyaan itu sering disertai rasa bersalah. Kita sudah memperoleh sesuatu yang dahulu sangat diinginkan. Banyak bagian hidup yang pantas disyukuri. Maka ketika kehampaan tetap muncul, kita mulai mencurigai diri sendiri. Seolah rasa kosong berarti tidak tahu berterima kasih.

Padahal rasa syukur dan kehilangan arah dapat berada di tempat yang sama. Kita dapat mencintai keluarga dan tetap bertanya siapa diri kita di luar kehidupan keluarga. Kita dapat menghargai pekerjaan yang telah memberi banyak hal sambil menyadari bahwa pekerjaan itu tidak lagi mempunyai arti seperti dahulu. Kita dapat bersyukur atas kehidupan yang telah dibangun tanpa harus berpura-pura bahwa bentuk yang sama akan selalu cukup.

Kadang tidak ada satu peristiwa yang mengubah semuanya. Kehidupan hanya terus berjalan, sementara orang yang menjalaninya perlahan berubah. Pilihan yang dibuat bertahun-tahun lalu mungkin sungguh tepat untuk diri kita pada waktu itu. Tetapi sejak saat itu kita telah mengalami keberhasilan, kegagalan, kehilangan, cinta, usia, tanggung jawab, dan hal-hal yang dahulu belum kita ketahui. Apa yang kita anggap penting ikut berubah bersamanya.

Di situlah keadaan dapat menjadi aneh. Kehidupan masih berjalan memakai arah lama, sementara sesuatu di dalam diri sudah tidak lagi tertarik menuju tempat yang sama. Kita mungkin masih sangat mampu menjalankannya. Bahkan mungkin semakin mahir. Orang lain masih melihat seseorang yang berfungsi dengan baik. Tetapi kemampuan melakukan sesuatu dan keinginan untuk terus membangun hidup di sekelilingnya bukanlah hal yang sama.

Bagi sebagian orang, pertanyaan ini baru terdengar setelah keadaan yang lama mendesak akhirnya menjadi tenang. Selama bertahun-tahun hampir seluruh tenaga dipakai untuk bertahan, membesarkan anak, menjaga keluarga, melewati penyakit, menyelesaikan utang, atau memastikan semuanya tidak runtuh. Pada masa seperti itu hidup mempunyai arah yang konkret. Sampai ke hari berikutnya. Menjaga sebanyak mungkin hal tetap utuh.

Ketika keadaan akhirnya sedikit lebih aman, ruang yang selama ini dipenuhi kebutuhan mendesak mulai terbuka. Kita mungkin mengira ketenangan akan langsung terasa seperti kebebasan. Kadang yang pertama terdengar justru pertanyaan yang terlalu lama tidak mempunyai tempat.

Hal serupa dapat terjadi ketika urutan hidup yang dahulu cukup jelas mulai habis. Sekolah menyediakan tahap berikutnya. Pekerjaan menyediakan sasaran berikutnya. Masyarakat menawarkan banyak penanda tentang apa yang biasanya dikejar setelah itu. Pada suatu titik, penanda tersebut semakin sedikit atau tidak lagi menarik. Kehidupan menjadi lebih terbuka, tetapi keterbukaan itu tidak selalu langsung terasa membebaskan.

Ketika orang lain tampak mempunyai arah yang jelas, mudah untuk mengira bahwa ketidakjelasan kita adalah sebuah kekurangan. Ada yang berbicara tentang ambisi dengan yakin. Ada yang terlihat menemukan pekerjaan yang ingin dilakukan seumur hidup. Tetapi tidak semua kehidupan yang berarti tersusun di sekeliling satu panggilan besar. Ada orang yang berjalan lama dalam satu arah. Ada yang beberapa kali harus membentuk ulang hidupnya. Ada pula yang tidak pernah menemukan satu jawaban besar, tetapi tetap mempunyai kehidupan yang dekat, berguna, dan berarti.

Ketika rasa kosong datang, jawaban besar memang sangat menggoda. Apa tujuan hidup saya? Apa yang sebenarnya saya inginkan? Apakah saya harus mengubah semuanya? Kita berharap satu jawaban akan mengembalikan gerak. Tetapi pertanyaan sebesar itu kadang justru membuat kehidupan semakin diam, karena hampir tidak ada jawaban yang terasa cukup besar untuk menjawabnya.

Kita lalu mencoba mengisi ruang tersebut. Membuat tujuan baru. Menyusun rutinitas. Mencari kesibukan. Pergi ke tempat lain. Memulai sesuatu. Kadang perubahan seperti itu memang membuka kehidupan. Tetapi kalender yang kembali penuh tidak selalu berarti arah telah kembali. Kesibukan dapat membuat kekosongan lebih sulit terdengar tanpa mengubah apa yang ada di bawahnya.

Ada pula dorongan untuk mengubah semuanya sekaligus. Keluar dari pekerjaan. Mengakhiri hubungan. Pindah kota. Memulai hidup dari nol. Perubahan besar kadang memang diperlukan. Tetapi keinginan untuk meninggalkan tempat yang sekarang terasa sempit tidak selalu sama dengan mengetahui ke mana kita ingin pergi. Menjauh dan menuju sesuatu dapat terasa serupa ketika kita sudah lama ingin bergerak.

Arah sering kembali dalam ukuran yang jauh lebih kecil.

Mungkin ada percakapan yang membuat waktu tidak terasa. Ada pekerjaan kecil yang membuat perhatian kembali utuh. Ada seseorang yang setelah ditemui membuat dunia terasa sedikit lebih luas. Ada sesuatu yang terus ingin kita baca atau lakukan tanpa perlu memaksa diri. Hal-hal seperti itu tidak otomatis menjadi jawaban. Tetapi mereka memberi tahu bahwa tidak seluruh hubungan kita dengan kehidupan telah mati.

Kadang yang pertama kembali bukan tujuan. Hanya rasa tertarik.

Rasa itu mudah diremehkan karena tidak terlihat cukup penting. Kita menunggu sebuah panggilan, sementara yang muncul hanya keinginan memasak lagi, menemui seseorang, berjalan di suatu tempat, atau kembali membuat sesuatu yang dahulu pernah kita sukai. Tidak satu pun harus dipaksa menjadi tujuan hidup. Nilainya mungkin justru terletak pada kenyataan sederhana bahwa untuk sesaat ada sesuatu yang kembali menarik kita mendekat.

Rasa kosong sendiri juga tidak selalu mempunyai sumber yang sama. Ada orang yang kehilangan kedekatan dengan manusia lain. Ada yang kehilangan rasa berguna setelah peran yang selama ini membuat keberadaannya terasa berarti berubah. Ada yang begitu lama hidup di dalam kewajiban hingga sangat mengenal apa yang dibutuhkan semua orang, tetapi hampir tidak lagi mengenali apa yang ia sendiri inginkan.

Dan ada pula kekosongan yang tidak mempunyai cerita sejelas itu. Kita mempunyai orang yang dicintai, pekerjaan, rumah, tanggung jawab, hal-hal yang secara nyata berharga, tetapi sesuatu tetap terasa jauh. Tidak semua pengalaman perlu segera dipaksa masuk ke dalam satu penjelasan hanya agar terasa rapi.

Kadang kita memang belum tahu.

Belum tahu berbeda dari tidak akan pernah tahu. Ada pemahaman yang tidak muncul karena dipikirkan lebih keras. Ia baru terlihat setelah waktu berjalan, setelah sebuah hubungan berubah, setelah sesuatu dicoba atau ditinggalkan, atau setelah kita memperoleh jarak yang cukup dari kehidupan yang selama ini terlalu dekat untuk dilihat dengan jelas.

Mungkin inilah salah satu bagian paling sulit dari kehilangan arah. Yang lama sudah kehilangan sebagian tarikannya, sementara yang baru belum terbentuk. Kita tidak lagi sepenuhnya dapat kembali kepada cara lama menjalani hidup, tetapi belum mempunyai sesuatu yang cukup jelas untuk menggantikannya.

Keadaan di antara keduanya mudah terasa seperti kegagalan karena tidak banyak yang dapat diperlihatkan kepada orang lain. Tidak ada jawaban yang rapi ketika ditanya tentang rencana. Bahkan apa yang terasa penting dapat berubah dari waktu ke waktu. Tetapi ketiadaan arah yang jelas tidak selalu berarti kita tersesat. Kadang memang belum ada jalan yang cukup lama dijalani untuk terlihat sebagai jalan.

Arah pun tidak harus datang sebagai gairah besar. Banyak kehidupan yang berarti disusun dari hal-hal yang lebih tenang: seseorang yang tetap ingin kita hadirkan dalam hidup, pekerjaan yang menurut kita layak dilakukan, sesuatu yang ingin dirawat, rasa ingin tahu yang terus kembali, atau cara tertentu kita ingin memperlakukan orang lain.

Karena itu arah tidak selalu ditemukan seperti benda yang selama ini tersembunyi. Kadang ia terbentuk perlahan dari apa yang masih mempunyai berat, apa yang mulai kehilangan berat, dan apa yang terus kembali meminta sedikit perhatian.

Ada kebebasan tertentu ketika satu hal tidak lagi dituntut menjelaskan seluruh kehidupan. Pekerjaan tidak harus menjadi panggilan agar bernilai. Hubungan tidak harus memenuhi seluruh kebutuhan manusia agar layak dijaga. Ketertarikan tidak harus menjadi identitas. Sesuatu dapat penting tanpa harus menjadi jawaban bagi semuanya.

Pada masa seperti ini, mungkin tidak banyak yang berubah dari luar. Kehidupan tetap berisi tubuh yang perlu makan dan tidur, pekerjaan hari ini, pesan yang belum dibalas, seseorang yang perlu ditemui, jalan yang sudah berkali-kali dilewati. Hal-hal biasa itu tidak menyelesaikan pertanyaan tentang arti hidup. Tetapi hidup sendiri memang tidak pernah datang sekaligus. Ia selalu datang sebagai hari ini, lalu bagian berikutnya.

Kadang hubungan dengan dunia mulai kembali justru melalui hal-hal yang kecil. Kita mulai menunggu sesuatu lagi. Sebuah percakapan. Buku yang ingin diteruskan. Pekerjaan yang ingin selesai. Pagi yang sedikit lebih lapang. Tidak semuanya akan menjadi tujuan hidup, dan tidak perlu.

Cukup ada sesuatu yang membuat hari berikutnya mempunyai sedikit tarikan.

Jika rasa kosong semakin dalam sampai kehidupan sehari-hari sulit dijalani, atau berubah menjadi perasaan bahwa Anda tidak ingin tetap hidup, keadaan itu layak diperlakukan dengan serius. Pada titik tersebut, menemukan arah bukan hal pertama yang harus diselesaikan. Keselamatan lebih dahulu, dan manusia lain perlu masuk ke dalam keadaan itu bersama Anda.

Tetapi kehilangan arah tidak selalu berada di sana. Kadang bentuknya jauh lebih sunyi. Kita masih berjalan. Hanya saja jalan lama tidak lagi menarik seperti dahulu, sementara jalan berikutnya belum terlihat.

Mungkin itu sebabnya pertanyaan Untuk apa semua ini? tidak selalu segera memperoleh jawaban.

Kadang yang berubah lebih dahulu hanyalah sesuatu yang sangat kecil. Ada bagian kehidupan yang terasa selesai. Ada sesuatu yang ternyata masih ingin dipertahankan. Ada satu hal yang kembali membuat kita sedikit ingin mendekat.

Belum sebuah peta.

Hanya sedikit tarikan ke suatu arah.

Untuk sementara, mungkin memang hanya itu yang mulai ada.