CATATAN EDITORIAL

Saya merasa kewalahan.

Bukan karena hal terakhir itu begitu besar. Mungkin ruangnya memang sudah hampir habis.

Kewalahan sering terlihat sederhana dari luar: terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak jadwal, terlalu banyak yang harus dilakukan. Kadang memang begitu. Tetapi jumlah tugas tidak selalu menjelaskan semuanya. Ada hari ketika jadwal penuh dan kita masih mampu bergerak cukup tenang. Ada hari lain ketika satu permintaan kecil saja membuat kita ingin berhenti. Jadi persoalannya bukan hanya berapa banyak yang sedang dilakukan, tetapi juga berapa banyak yang sedang dibawa.

Tidak semua beban dapat dimasukkan ke dalam daftar. Menunggu kabar menggunakan tenaga. Konflik yang belum selesai menggunakan tenaga. Memikirkan uang, menjaga seseorang, menahan marah, mencoba tetap biasa ketika hidup sedang berubah, atau mengambil keputusan yang belum mempunyai jawaban juga menggunakan tenaga. Tidak ada kotak yang dapat dicentang setelah kita melakukannya. Tetapi tubuh dan pikiran tetap membayar biayanya.

Itulah sebabnya kita kadang bingung melihat diri sendiri. “Hari ini sebenarnya tidak banyak. Kenapa saya sudah begitu lelah?” Mungkin karena yang kita hitung hanya pekerjaan yang terlihat. Sementara sebagian tenaga sedang dipakai untuk berjaga, mengantisipasi, mengingat, atau menahan sesuatu yang belum selesai.

Kita dapat duduk tanpa benar-benar berhenti. Tidur tanpa sepenuhnya beristirahat. Sebagian pikiran masih memeriksa: apakah ada pesan baru, apakah saya melupakan sesuatu, apakah keadaan memburuk, apa yang harus dilakukan berikutnya. Tubuh berada di satu tempat, tetapi perhatian masih tersebar ke banyak tempat.

Kita bisa mempunyai waktu luang tanpa mempunyai ruang.

Ketika ruang mulai berkurang, hal sederhana ikut berubah. Membalas pesan membutuhkan tenaga. Memilih makanan terasa merepotkan. Seseorang bertanya, “Kamu maunya bagaimana?” dan kita hanya ingin mereka menentukan saja. Bukan karena kemampuan membuat keputusan tiba-tiba hilang. Kita mungkin sudah terlalu lama memilih apa yang harus didahulukan, siapa yang perlu dijawab, apa yang dapat ditunda, dan apa yang tidak boleh terlupakan.

Ada alasan mengapa keadaan seperti itu dapat terjadi. Penelitian tentang cara manusia mengelola perhatian dan beberapa tuntutan sekaligus menunjukkan bahwa kapasitas kita memang terbatas. Stres juga dapat membuat kemampuan menahan informasi dan berpindah dengan luwes dari satu persoalan ke persoalan lain menjadi lebih buruk. Ketika terlalu banyak hal berebut tempat, keputusan yang biasanya kecil pun dapat membutuhkan tenaga lebih besar.

Dari luar, keadaan seperti itu mudah disebut menunda, tidak disiplin, malas, atau tidak fokus. Kadang mungkin memang ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tetapi kadang penjelasannya lebih sederhana: kapasitas yang tersedia sudah hampir habis.

Lalu kita marah kepada diri sendiri. “Kenapa saya tidak bisa fokus?” Padahal mungkin bukan karena kita tidak mempunyai fokus. Terlalu banyak hal sedang berusaha mendapatkannya.

Kewalahan juga dapat muncul ketika terlalu banyak bagian kehidupan membutuhkan kita pada waktu yang sama. Pekerjaan meminta perhatian. Orang yang kita sayangi membutuhkan sesuatu. Ada rumah yang perlu dijaga, keputusan yang harus dibuat, hubungan yang perlu dirawat, dan hal-hal kecil yang tidak berhenti hanya karena satu bagian hidup sedang berat. Tidak ada satu pun yang harus salah agar semuanya bersama-sama menjadi terlalu banyak.

Kadang yang melelahkan bukan sekadar mempunyai banyak tanggung jawab. Kita terlalu lama berusaha memastikan tidak ada satu pun yang jatuh.

Ini dapat menjadi lebih berat ketika kita terbiasa menjadi orang yang sanggup. Kita mengingat, mengatur, menjawab, menyelesaikan. Lama-kelamaan kemampuan membawa banyak hal menjadi bagian dari cara kita mengenali diri sendiri. Maka ketika kapasitas menurun, yang muncul bukan hanya lelah, tetapi juga takut: “Apa yang terjadi dengan saya? Dulu saya bisa.”

“Dulu saya bisa” sering membandingkan dua versi diri tanpa membandingkan apa yang sedang mereka bawa. Diri yang dulu mungkin tidak mempunyai tanggung jawab yang sama, ketidakpastian yang sama, kekurangan tidur yang sama, atau persoalan yang sama. Kapasitas manusia bukan ukuran yang tetap. Ia berubah mengikuti keadaan.

Ada hari ketika kita mampu membawa banyak hal dan masih mempunyai ruang. Ada hari ketika satu hal saja sudah berat. Itu tidak selalu mengatakan siapa kita. Kadang ia hanya mengatakan seperti apa keadaan kita sekarang.

Tetapi kewalahan mudah menyentuh harga diri. Kemampuan mengurus banyak hal sering dianggap sebagai tanda kuat, berguna, atau berhasil. Karena itu kalimat “Saya tidak sanggup mengurus ini sekarang” dapat terdengar seperti pengakuan kegagalan, padahal mungkin hanya laporan yang jujur tentang kapasitas yang tersedia.

Tidak sanggup hari ini juga berbeda dari tidak mampu selamanya. Saat kewalahan, perbedaan itu mudah hilang. Satu pekerjaan tidak selesai, lalu penilaian meluas menjadi “Saya kacau. Saya tidak produktif. Kenapa orang lain bisa dan saya tidak?”

Perbandingan buruk dalam menghitung beban yang tidak terlihat. Kita melihat apa yang berhasil dilakukan orang lain, tetapi tidak melihat seluruh dukungan, tanggung jawab, keadaan tubuh, tekanan, atau persoalan yang tidak sedang mereka bawa. Bahkan orang yang sama tidak membawa beban yang sama pada setiap masa hidupnya.

Dan tidak semua yang memenuhi kapasitas adalah hal buruk. Perubahan yang kita inginkan tetap dapat membutuhkan tenaga. Kesempatan baru tetap membutuhkan penyesuaian. Sesuatu yang kita cintai tetap dapat meminta banyak dari kita. Kita dapat bersyukur dan kewalahan pada waktu yang sama.

Kadang hanya ada satu persoalan, tetapi ia mengambil hampir seluruh ruang. Kita sedang menunggu sesuatu yang penting. Sebuah hubungan berada dalam ketidakpastian. Ada keadaan yang belum mempunyai hasil. Kita mungkin tidak sedang mengerjakannya sepanjang hari, tetapi sebagian pikiran terus membuat kemungkinan tentang apa yang akan terjadi.

Ada hal yang memang dapat dipersiapkan. Tetapi ketika informasi yang dibutuhkan belum tersedia, pikiran dapat bekerja sangat keras tanpa menghasilkan tindakan baru. Kita lelah bukan karena telah menyelesaikan banyak hal, tetapi karena terus mencoba menyelesaikan masa depan yang belum dapat diselesaikan.

Ada pula tanggung jawab yang memang tidak mempunyai garis selesai. Mengurus kehidupan berarti banyak hal akan kembali. Sesuatu selesai hari ini dan beberapa hari kemudian perlu dilakukan lagi. Itu bukan kegagalan. Begitulah pemeliharaan hidup bekerja.

Masalahnya, kita sering menunggu semuanya selesai sebelum mengizinkan diri beristirahat.

Padahal kehidupan hampir selalu mempunyai satu hal lagi.

Kewalahan dapat menjadi lebih berat ketika setiap tanggung jawab juga membawa tuntutan untuk dilakukan sebaik mungkin. Tidak cukup selesai. Harus benar, rapi, tidak mengecewakan, dijawab dengan tepat, dijaga agar tidak ada yang salah. Kita bukan hanya membawa banyak hal. Kita mencoba membawa semuanya tanpa cacat.

Pada masa seperti itu, kata cukup dapat menjadi sulit diterima. Sebagian hal mungkin memang penting. Tetapi penting tidak selalu berarti harus sempurna. Dan memberikan lebih sedikit tenaga pada satu hal tidak selalu berarti kita tidak peduli.

Tetap saja, tidak semua kewalahan dapat diselesaikan dengan menurunkan standar, mengatur waktu, atau belajar berkata tidak. Ada kewajiban yang memang milik kita. Ada keadaan yang tidak dapat ditunda. Ada orang yang memang membutuhkan kita. Ada masa ketika kenyataannya memang terlalu banyak.

Tidak semua orang dapat mengambil cuti, membagi pekerjaan, mempunyai orang lain yang siap membantu, atau meninggalkan keadaan yang sedang dijalani. Tidak ada cara mengatur dua puluh empat jam sehingga menjadi tiga puluh.

Dalam keadaan seperti itu, penting untuk tidak mengubah masalah keadaan menjadi kegagalan pribadi.

Kalau terlalu banyak yang sedang diminta dari satu orang, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apa yang salah dengan saya?”

Mungkin pertanyaannya adalah, “Apa yang terlalu banyak di sini?”

Pertanyaan itu tidak langsung mengurangi beban. Tetapi ia dapat mengubah cara kita melihatnya. Ada perbedaan antara tidak sanggup karena kita kurang berusaha dan tidak sanggup karena tuntutan memang sudah melampaui ruang yang tersedia.

Kadang dari sana kita mulai melihat bahwa tidak semua hal yang mendesak benar-benar sama pentingnya. Ada yang memang harus dilakukan sekarang. Ada yang terasa mendesak karena seseorang menunggu, karena notifikasi terus datang, karena rasa bersalah, atau karena kita takut mengecewakan orang lain. Jika semuanya diperlakukan seperti keadaan darurat, tidak pernah ada bagian kehidupan yang benar-benar mendapat ruang.

Kewalahan juga dapat memperlihatkan sesuatu tentang batas. Kita mungkin mengatakan ya terlalu sering karena ingin membantu, takut dianggap tidak peduli, atau terbiasa menjadi orang yang sanggup. Tetapi membuat batas bukan hanya persoalan mengatakan tidak. Kadang bagian yang lebih berat adalah tetap bertahan pada keputusan itu ketika rasa bersalah datang.

Namun ada keadaan ketika masalah sebenarnya bukan batas. Kita memang sedang membawa sesuatu yang berat dan tidak dapat begitu saja meletakkannya.

Pada saat seperti itu, yang paling melelahkan mungkin bukan hanya bebannya. Tidak ada tempat di mana kita dapat berhenti menjadi orang yang dibutuhkan. Di satu tempat ada yang menunggu keputusan. Di tempat lain ada yang membutuhkan perhatian. Bahkan ketika sendirian, kepala masih menjaga semuanya.

Manusia membutuhkan tempat untuk tidak selalu menjadi orang yang paling kuat di ruangan.

Dukungan tidak harus berarti seseorang mengambil seluruh beban. Kadang satu bagian saja sudah berarti. Ada sesuatu yang tidak perlu kita ingat sendirian. Ada satu pekerjaan yang dipegang orang lain. Ada seseorang yang mendengarkan tanpa langsung menambah pekerjaan baru dalam bentuk nasihat. Bebannya mungkin belum hilang, tetapi kita tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang memegangnya.

Meminta bantuan pun tidak selalu mudah, terutama bagi orang yang terbiasa membantu. Ada takut merepotkan, takut dinilai tidak mampu, takut ditolak, atau pengalaman lama yang membuat kita belajar bahwa meminta belum tentu membuat seseorang datang. Karena itu kalimat “Saya butuh bantuan” kadang membawa sejarah yang jauh lebih panjang daripada tiga katanya.

Ada juga keadaan yang membingungkan ketika akhirnya kita mempunyai waktu, tetapi tidak mampu memulai apa pun. Kita berbaring, menggulir layar, tidur lebih lama, atau melakukan sesuatu yang tidak ada dalam daftar. Lalu rasa bersalah muncul karena waktu itu dianggap terbuang.

Tidak semua diam adalah istirahat, dan tidak semua penundaan berarti malas. Kadang kita sedang menghindari sesuatu. Kadang kita benar-benar kehabisan tenaga. Kadang keduanya terjadi bersama. Menghina diri biasanya tidak membuat perbedaannya menjadi lebih jelas.

Kewalahan adalah pengalaman, bukan diagnosis. Ia dapat muncul bersama kurang tidur, kecemasan, duka, perubahan hidup, konflik, tekanan finansial, masalah kesehatan, atau banyak hal kecil yang bertemu pada waktu yang sama. Kita tidak harus segera menemukan satu penyebab. Kadang memang tidak ada satu penyebab tunggal.

Karena itu, perubahan tidur, energi, konsentrasi, atau kondisi fisik yang menetap dan tidak biasa tetap layak diperhatikan. Tubuh yang kelelahan tidak selalu sedang menceritakan cerita yang sama.

Ada titik ketika kewalahan juga tidak lagi cukup diperlakukan sebagai hari yang terlalu penuh. Jika kebutuhan dasar mulai sulit diurus, tidur terus rusak, pikiran semakin sulit dikendalikan, tubuh berada dalam ketegangan hampir sepanjang waktu, suatu keadaan tidak aman, atau muncul ketakutan terhadap apa yang mungkin kita lakukan kepada diri sendiri atau orang lain, kita tidak perlu menunggu sampai mampu menjelaskan semuanya dengan rapi untuk mencari bantuan.

“Saya sudah tidak sanggup membawa ini sendirian” sudah cukup untuk memulai.

Untuk banyak keadaan lain, kewalahan tidak selalu membutuhkan perubahan besar malam ini. Hidup tidak harus langsung menjadi ringan. Kadang yang mungkin dilakukan hanyalah membuatnya sedikit lebih dapat dibawa.

Satu hal tidak selesai hari ini. Satu standar tidak setinggi biasanya. Satu beban akhirnya diketahui orang lain. Satu persoalan yang memang belum mempunyai jawaban dibiarkan tetap tanpa jawaban sampai besok.

Hal kecil tidak selalu kecil ketika ruang sudah hampir habis.

Manusia mempunyai batas. Itu bukan kegagalan. Kita membutuhkan tidur, perhatian, waktu, orang lain, dan jeda. Ketangguhan tidak membuat kebutuhan itu menghilang.

Ada masa ketika keberhasilan bukan tentang berapa banyak yang dapat kita tambahkan. Ada masa ketika pekerjaan terpenting adalah menjaga agar hal yang paling penting tidak ikut runtuh.

Pada hari seperti itu, mungkin ukuran keberhasilan memang berubah. Bukan “Berapa banyak yang saya capai?” tetapi “Apa yang berhasil saya jaga?”

Mungkin kewalahan mulai sedikit berubah ketika pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana saya menyelesaikan semuanya?”

Mungkin pertanyaannya menjadi, “Apa yang perlu saya pegang sekarang, dan apa yang boleh saya letakkan sebentar?”

Kita dapat belajar menjadi lebih teratur, lebih terampil, atau lebih kuat. Tetapi pada suatu titik, persoalannya memang bukan lagi cara memegang.

Ada terlalu banyak yang sedang diminta untuk dipegang.

Kita tidak harus mengecilkan beban agar terlihat kuat.

Kadang yang paling jujur adalah mengakui bahwa tangan kita memang sudah penuh.