CATATAN EDITORIAL

Terus menyalahkan diri sendiri

Satu kesalahan kadang tetap mengikuti kita jauh setelah kejadiannya selesai. Kita sudah menjalani hari-hari berikutnya, mungkin bahkan sudah membangun bagian hidup yang baru, tetapi ingatan tentang apa yang pernah dilakukan masih dapat muncul ketika suasana sedang tenang atau ketika sesuatu mengingatkan kita kepadanya.

Kita mengingat sesuatu yang pernah dikatakan, keputusan yang diambil, orang yang terluka, atau kesempatan ketika seharusnya kita hadir tetapi tidak hadir sebagaimana yang sekarang kita harapkan. Lalu muncul kalimat yang pada awalnya mungkin cukup tepat: Saya salah.

Masalahnya dimulai ketika kalimat itu perlahan berubah.

Dari saya melakukan sesuatu yang salah menjadi saya memang orang yang buruk. Dari saya gagal menjaga sesuatu menjadi saya selalu menghancurkan apa yang saya cintai. Dari saya mempunyai bagian dalam kejadian ini menjadi semuanya terjadi karena saya.

Yang semula merupakan penilaian terhadap tindakan mulai menjadi penilaian terhadap seluruh diri.

Penelitian psikologi juga mengenali perbedaan penting ini. Rasa bersalah cenderung tertuju pada sesuatu yang kita lakukan, sementara penghukuman yang melekat pada seluruh diri lebih mudah berubah menjadi rasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan siapa kita.

Rasa bersalah sendiri bukan musuh. Ia merupakan salah satu cara manusia mengetahui bahwa tindakannya tidak sesuai dengan sesuatu yang dianggap penting. Kita dapat menyadari akibat terhadap orang lain, merasa menyesal, meminta maaf, memperbaiki yang masih dapat diperbaiki, atau berubah karena tidak ingin mengulangi hal yang sama.

Dalam bentuk seperti itu, rasa bersalah mempunyai arah.

Tetapi tidak semua rasa bersalah berhenti setelah pekerjaannya selesai.

Kita mungkin sudah memahami apa yang salah. Sudah meminta maaf. Sudah mengubah perilaku. Sudah hidup bertahun-tahun dengan kesadaran bahwa kita tidak ingin menjadi orang yang sama pada bagian itu.

Namun sesuatu di dalam diri masih berkata: belum cukup.

Kalimat itu sulit dibantah karena penderitaan dapat terasa seperti bukti kesungguhan. Jika kita benar-benar menyesal, bukankah seharusnya kita tetap merasa buruk? Jika seseorang masih terluka, bagaimana mungkin kita merasa lega? Jika akibatnya tidak dapat dikembalikan, apa hak kita untuk melanjutkan hidup?

Beberapa kesalahan memang mempunyai akibat yang lama. Permintaan maaf tidak selalu memulihkan kepercayaan. Sebuah hubungan dapat berakhir. Kesempatan dapat hilang. Orang yang terluka dapat memilih tidak kembali. Ada pula hal yang baru kita pahami setelah tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan apa pun kepada orang yang bersangkutan.

Pada keadaan seperti itu, tidak ada tindakan yang mampu membuat masa lalu kembali seperti sebelum semuanya terjadi.

Di titik itulah rasa bersalah mudah berubah fungsi.

Jika masa lalu tidak dapat diperbaiki, kita mungkin mulai menggunakan diri sendiri sebagai tempat hukuman dijalankan. Sesuatu yang baik datang dan terasa tidak pantas diterima. Seseorang menyayangi kita, tetapi kita menjaga jarak. Keberhasilan terasa memalukan untuk dirayakan.

Seolah ada utang yang hanya dapat dibayar dengan terus menderita.

Padahal penderitaan bukan mata uang yang dapat dikirim kembali ke masa lalu.

Rasa sakit yang kita tambahkan kepada diri hari ini tidak otomatis mengurangi rasa sakit yang pernah diterima orang lain. Ia juga tidak mengubah kejadian yang membuat kita menyesal.

Ini tidak berarti tanggung jawab harus diperkecil agar kita merasa lebih nyaman.

Manusia memang mampu melakukan hal yang salah. Kita dapat egois, takut, tidak jujur, mengabaikan sesuatu yang penting, atau melukai seseorang yang mempercayai kita. Tidak semua tindakan membutuhkan pembelaan. Ada saat ketika kalimat paling jujur memang hanya: Saya melakukan itu. Itu salah.

Tetapi kejujuran dan kekejaman terhadap diri bukan hal yang sama.

Kejujuran mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kekejaman mengambil satu kebenaran, lalu menggunakannya untuk membuat kesimpulan tentang seluruh manusia.

Kita pernah berbohong, maka kita adalah pembohong dalam segala hal. Kita pernah gagal hadir, maka kita tidak layak dipercaya. Kita pernah menyakiti seseorang, maka cinta dari siapa pun setelahnya terasa seperti sesuatu yang didapat karena mereka belum mengetahui diri kita yang sebenarnya.

Satu bagian dari cerita kemudian diberi kekuasaan untuk menjelaskan semuanya.

Menyalahkan diri juga dapat terasa meyakinkan karena ia menawarkan jawaban yang sederhana di tengah kenyataan yang rumit: semua ini terjadi karena saya.

Jawaban seperti itu menyakitkan, tetapi mempunyai satu daya tarik tersembunyi. Jika semuanya terjadi karena kita, berarti dunia masih dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya dapat dikendalikan. Seandainya kita lebih peka, lebih berani, lebih sabar, lebih cepat, hasilnya pasti berbeda.

Kadang menyalahkan diri terasa lebih mudah daripada menerima bahwa sebagian kehidupan memang berada di luar kuasa kita.

Sebuah hubungan mempunyai lebih dari satu manusia di dalamnya. Sebuah keputusan dibuat di dalam keadaan tertentu. Orang lain membawa sejarah, kehendak, kebutuhan, dan pilihannya sendiri. Tubuh dapat sakit. Keadaan berubah. Informasi tidak lengkap. Sesuatu yang kita cintai dapat tetap hilang meskipun kita sungguh ingin menjaganya.

Mengakui semua itu bukan cara melarikan diri dari tanggung jawab.

Justru tanggung jawab hanya menjadi jujur ketika ukurannya tepat.

Terlalu sedikit tanggung jawab membuat kita tidak melihat bagian sendiri. Terlalu banyak membuat kita mengambil bagian yang sebenarnya bukan milik kita. Keduanya menjauhkan kita dari kenyataan.

Ukuran itu semakin sulit ditemukan ketika kita menilai masa lalu menggunakan pengetahuan yang baru dimiliki setelah semuanya selesai.

Hari ini kita dapat melihat tanda yang dahulu terlewat. Mengerti sebuah kalimat yang waktu itu terdengar biasa. Mengetahui bahwa satu keputusan akan membawa akibat besar. Setelah mengetahui akhirnya, awal cerita tampak jauh lebih mudah dibaca.

Diri kita yang sekarang kemudian bertanya kepada diri yang dahulu: Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?

Padahal ia memang belum tahu.

Itu bukan berarti segala tindakan dapat dibenarkan dengan mengatakan bahwa kita tidak mengetahui akibatnya. Kadang kita sudah tahu cukup banyak dan tetap memilih sesuatu yang salah. Tetapi ada perbedaan antara mengakui apa yang sungguh kita ketahui saat itu dan menuntut diri masa lalu mempunyai pengetahuan yang baru diperoleh kemudian.

Keadilan terhadap diri sendiri bukan pembebasan dari tanggung jawab. Ia adalah usaha untuk tidak menambahkan tuduhan yang tidak benar.

Sebagian orang menyalahkan diri bahkan ketika tidak ada kesalahan moral yang jelas.

Seseorang tidak berhasil menyelamatkan orang yang dicintai. Tidak mengetahui bahwa sebuah pertemuan akan menjadi pertemuan terakhir. Terlalu lelah pada hari ketika seseorang membutuhkan lebih banyak perhatian. Bertahan di satu keadaan terlalu lama. Pergi dan kemudian bertanya apakah seharusnya bertahan sedikit lagi.

Kehidupan membuat kita memilih menggunakan informasi yang tersedia saat itu, lalu memberikan akibatnya setelah pilihan sudah dibuat.

Tidak selalu ada satu jalan yang bersih.

Bertahan dapat mempunyai harga. Pergi pun dapat mempunyai harga. Mengatakan sesuatu dapat menyakiti. Diam juga dapat menyakiti. Menolong satu hal kadang berarti tidak berada di tempat lain.

Kita mudah membayangkan bahwa pasti pernah tersedia satu pilihan yang membuat semuanya baik-baik saja, dan kegagalan kita hanyalah tidak berhasil menemukannya.

Kadang pilihan semacam itu memang tidak pernah ada.

Rasa bersalah juga dapat muncul hanya karena kita peduli. Kita berharap telah memberi lebih banyak. Berharap lebih sabar. Berharap seseorang tidak harus mengalami sesuatu yang menyakitkan.

Keinginan itu nyata, tetapi ia tidak selalu membuktikan bahwa kita merupakan penyebab dari apa yang terjadi.

Kadang kalimat seharusnya saya melakukan sesuatu menutupi kalimat lain yang jauh lebih tidak berdaya: Saya berharap ini tidak pernah terjadi.

Kalimat pertama memberi pekerjaan kepada pikiran. Kita dapat terus mencari titik ketika semuanya mungkin dapat diubah.

Kalimat kedua membawa kita ke wilayah yang berbeda.

Duka.

Ada kehilangan yang tidak dapat dibuat lebih masuk akal dengan menemukan siapa yang harus disalahkan. Namun ketidakberdayaan dapat begitu sulit ditanggung sehingga rasa bersalah terasa lebih mudah. Jika ini salah kita, setidaknya masih ada seseorang yang dapat dihukum.

Diri sendiri selalu tersedia.

Lama-kelamaan, hukuman itu bahkan dapat terasa seperti bentuk kesetiaan.

Kita takut bahwa jika rasa bersalah berkurang, berarti apa yang terjadi sudah tidak penting. Jika kita dapat tertawa lagi, mungkin kita sedang melupakan seseorang. Jika hidup kembali terasa baik, mungkin kita sedang mengambil sesuatu yang tidak pantas setelah pernah menyebabkan atau menyaksikan rasa sakit.

Tetapi mengingat tidak membutuhkan luka dengan intensitas yang sama selamanya.

Penyesalan dapat tetap menjadi penyesalan meskipun suatu pagi terasa ringan. Seseorang yang hilang tetap berarti meskipun kita kembali tertawa. Kesalahan tetap salah meskipun kita tidak lagi membicarakan diri sendiri dengan kebencian.

Bahkan mungkin perubahan adalah salah satu bentuk paling nyata dari penyesalan yang sungguh-sungguh.

Kita tidak dapat kembali dan membuat diri dahulu bertindak berbeda. Tetapi apa yang kita pahami dari sana dapat mengubah cara kita hadir sekarang.

Orang yang pernah tidak jujur dapat mengetahui betapa mahalnya kejujuran yang terlambat. Orang yang pernah mengabaikan seseorang dapat belajar bahwa kehadiran tidak selalu dapat ditunda. Orang yang pernah dikendalikan ketakutan dapat mulai mengenali saat ketakutan yang sama ingin mengambil keputusan berikutnya.

Masa lalu tidak berubah. Tetapi pengaruhnya terhadap tindakan hari ini dapat berubah.

Jika masih ada sesuatu yang dapat diperbaiki, tanggung jawab mungkin mempunyai bentuk yang konkret. Permintaan maaf. Mengembalikan sesuatu. Mengakui kenyataan yang dahulu disembunyikan. Mengubah pola yang merugikan orang lain.

Namun melakukan bagian kita tidak membuat kita menguasai hasil akhirnya.

Permintaan maaf tidak menciptakan kewajiban untuk memaafkan. Perubahan kita tidak mengharuskan seseorang kembali. Orang lain tetap mempunyai hak atas jarak, kemarahan, atau keputusan mereka sendiri.

Itu salah satu bagian paling berat dari tanggung jawab: kita dapat melakukan sesuatu dengan benar sekarang tanpa memperoleh akhir yang kita inginkan.

Pada titik tertentu, mungkin tidak ada lagi tindakan yang dapat diberikan kepada rasa bersalah.

Yang tersisa adalah hidup dengan pengetahuan bahwa kita pernah mampu melakukan sesuatu yang sekarang kita sesali.

Pengetahuan itu tidak nyaman. Mungkin memang tidak perlu dibuat nyaman.

Kedewasaan tidak selalu berarti akhirnya merasa bahwa kita sebenarnya tidak bersalah. Kadang ia berarti dapat mengatakan: Ya, saya melakukan itu. Saya berharap saya tidak melakukannya. Saya melihatnya lebih jelas sekarang. Saya bertanggung jawab atas bagian saya.

Lalu kalimat itu berhenti di sana tanpa harus dilanjutkan menjadi: karena itu saya tidak layak mempunyai masa depan.

Ada perbedaan besar antara keduanya.

Yang pertama mengikat kita kepada kenyataan. Yang kedua menjadikan masa lalu sebagai putusan terhadap seluruh kehidupan.

Memaafkan diri sering terdengar seperti jawaban sederhana, tetapi kata itu sendiri dapat terasa terlalu cepat. Terutama ketika akibatnya serius atau ketika orang lain masih membawa luka.

Tidak semua orang langsung sampai pada pengampunan terhadap diri. Mungkin itu bukan tempat pertama yang perlu dicapai.

Kadang perubahan yang lebih kecil sudah berarti banyak. Tuduhan yang tidak benar mulai dipisahkan dari tanggung jawab yang nyata. Konteks dapat dilihat tanpa dijadikan pembenaran. Perbaikan yang sungguh sudah dilakukan tidak lagi dianggap tidak ada. Dan rasa sakit berhenti digunakan sebagai satu-satunya bukti bahwa kita mempunyai hati nurani.

Kesalahan kita tidak menjadi lebih serius hanya karena kita menghukum diri lebih keras.

Yang menentukan tanggung jawab bukan seberapa kejam kita mampu memperlakukan diri setelahnya.

Yang lebih penting adalah apa yang kita akui, apa yang masih dapat diperbaiki, apa yang berubah dalam cara kita hidup, dan apa yang tidak lagi kita ulangi.

Ada rasa bersalah yang jauh lebih berat daripada yang dapat diurai sendiri. Jika penghukuman diri berubah menjadi keyakinan bahwa hidup tidak lagi layak dijalani, atau muncul keinginan untuk menyakiti diri, keselamatan menjadi lebih penting daripada menyelesaikan pertanyaan moral itu sendirian. Kehadiran orang lain dan bantuan profesional dapat menjadi bagian penting pada keadaan seperti itu.

Untuk banyak penyesalan lain, pertanyaannya mungkin jauh lebih sunyi.

Bukan bagaimana caranya membuktikan bahwa saya orang baik?

Bukan pula bagaimana caranya menghapus apa yang pernah saya lakukan?

Mungkin hanya: apakah saya masih sedang bertanggung jawab, atau saya sudah mulai menghukum diri?

Dari dalam, keduanya dapat terasa hampir sama.

Sama-sama melihat ke belakang. Sama-sama mengakui rasa sakit. Sama-sama tidak ingin kesalahan terulang.

Tetapi arah yang mereka tuju berbeda.

Tanggung jawab membawa masa lalu ke dalam cara kita hidup sekarang.

Penghukuman diri membawa seluruh hidup kembali ke masa lalu.

Beberapa kesalahan memang akan tetap menjadi bagian dari cerita.

Tetapi bagian tidak harus menjadi keseluruhan.

Dan mengetahui siapa kita pernah menjadi tidak membatalkan kemungkinan tentang siapa kita masih dapat menjadi.