Cukup berhasil. Cukup pintar. Cukup menarik. Cukup kuat. Cukup baik sebagai pasangan, orang tua, anak, teman, atau manusia. Kita membayangkan suatu hari akan tiba di sebuah tempat dan akhirnya dapat berkata, sekarang saya sudah cukup.
Lalu sesuatu tercapai, dan ukurannya bergerak.
Nilai yang dahulu terasa membanggakan menjadi biasa. Penghasilan yang pernah terasa besar mulai terlihat kecil. Sesuatu yang lama dikejar kehilangan bobot tidak lama setelah didapat. Kita melihat seseorang berada sedikit lebih jauh dan segera merasa tertinggal lagi.
Karena itu, perasaan tidak cukup baik tidak selalu berarti hidup tidak pernah memberi bukti bahwa kita mampu. Kadang buktinya banyak. Kita pernah berhasil, dipercaya, dicintai, atau menyelesaikan sesuatu yang dahulu terasa hampir mustahil. Masalahnya adalah bukti itu tidak selalu tinggal lama.
Pujian datang dan pikiran berkata, mereka belum tahu saya sebenarnya seperti apa. Keberhasilan datang dan kita berkata, saya hanya beruntung. Kita sudah melakukan banyak hal, tetapi perhatian segera berpindah kepada satu hal yang belum dilakukan. Satu keberhasilan menjadi pengecualian, sementara satu kegagalan terasa seperti bukti.
Ketika pola ini berlangsung cukup lama, yang dinilai bukan lagi hanya apa yang kita lakukan. Seluruh diri ikut masuk ke dalam penilaian. Kita tidak lagi hanya berkata, saya gagal pada bagian ini. Kita mulai berkata, saya memang tidak cukup baik.
Perubahan kecil dalam bahasa itu membawa akibat yang besar. Kekurangan pada satu kemampuan masih mempunyai batas. Ia dapat dipelajari, diterima, atau diperbaiki. Tetapi jika kesimpulannya adalah ada sesuatu yang salah dengan diri kita, persoalannya menjadi jauh lebih luas. Hampir apa pun dapat menjadi bukti berikutnya.
Lamaran kerja ditolak. Seseorang tidak membalas perasaan kita. Sebuah proyek gagal. Kita kehilangan kesabaran terhadap orang yang dicintai. Kejadiannya berbeda, tetapi kesimpulan di dalam diri dapat terdengar sama: lihat, ini membuktikan sesuatu tentang saya.
Kadang hubungan seperti itu dengan diri terbentuk jauh sebelum kita mempunyai bahasa untuk memahaminya. Tidak harus ada seseorang yang pernah berkata bahwa kita hanya berharga ketika berhasil. Anak dapat mempelajarinya dari pola yang lebih kecil. Saat berprestasi, perhatian terasa lebih hangat. Saat tidak membuat masalah, suasana terasa lebih aman. Saat kuat, kita dipuji. Saat membutuhkan sesuatu, kita merasa merepotkan.
Pelan-pelan, penerimaan dan pencapaian dapat terasa seperti dua hal yang saling terikat. Sebuah kesimpulan tumbuh tanpa pernah harus diucapkan dengan lengkap: untuk diterima, saya harus menjadi sesuatu.
Ketika dewasa, bentuknya berubah. Kita harus berguna. Harus dapat diandalkan. Harus menarik. Harus kuat. Harus terus berkembang. Dan ketika salah satu syarat itu tidak terpenuhi, yang terasa terancam bukan hanya hasil. Nilai diri ikut terasa dipertaruhkan.
Penelitian tentang harga diri yang sangat bergantung pada pencapaian membantu menjelaskan mengapa keadaan seperti ini dapat terasa rapuh. Jika nilai diri diletakkan pada sesuatu yang harus terus dibuktikan, perubahan pada bagian itu mudah terasa seperti ancaman terhadap seluruh diri.
Karena itu, dua orang dapat mengalami kegagalan yang sama tetapi membawa pulang pengalaman yang sangat berbeda. Yang satu berpikir, ini tidak berjalan baik. Yang lain mendengar, saya tidak baik. Yang pertama menghadapi sebuah kejadian. Yang kedua sedang menghadapi putusan terhadap dirinya sendiri.
Kehidupan modern memberi keadaan seperti ini lebih banyak bahan. Dalam beberapa menit kita dapat melihat orang yang lebih muda, lebih kaya, lebih menarik, lebih produktif, lebih dikenal, atau setidaknya tampak demikian. Perbandingan bukan sesuatu yang baru bagi manusia. Yang berubah adalah jumlah kehidupan orang lain yang dapat kita lihat, dan betapa sedikit konteks yang ikut terlihat bersama hasilnya.
Kita melihat pencapaian tanpa tahun-tahun sebelumnya. Foto tanpa hari-hari biasa di sekitarnya. Saat seseorang berhasil ketika kita sendiri sedang berada pada malam ketika semuanya terasa meragukan. Perbandingan itu tidak pernah benar-benar seimbang, tetapi yang tertinggal di dalam diri sering hanya satu kalimat: mereka sudah sampai. Saya belum.
Masalahnya, selalu akan ada seseorang yang berada lebih jauh pada ukuran tertentu. Jika rasa aman membutuhkan kita menjadi yang paling berhasil, paling disukai, paling menarik, atau paling kuat, hidup tidak akan pernah mampu menjaminnya.
Bahkan tanpa orang lain, kita masih dapat kalah dari seseorang yang lebih sulit ditandingi: diri yang hanya hidup dalam bayangan kita. Versi itu selalu sabar, disiplin, mengetahui apa yang harus dikatakan, tidak mengecewakan orang yang dicintai, tidak membuang waktu, dan tidak mengambil keputusan yang kemudian disesali.
Ia mempunyai satu keunggulan yang tidak kita miliki.
Ia tidak harus hidup.
Ia tidak kelelahan kecuali kita menuliskannya demikian. Tidak sakit. Tidak kebingungan. Tidak dibatasi waktu, tubuh, tanggung jawab, atau keadaan yang berubah. Lalu manusia imajiner itu digunakan untuk mengukur manusia yang harus menjalani hari sungguhan. Tentu manusia sungguhan akan selalu terlihat kurang.
Kadang kekerasan terhadap diri dipertahankan atas nama perkembangan. Kita takut bahwa jika berhenti merasa kurang, kita akan berhenti berusaha. Kalau saya menerima diri sekarang, saya akan menjadi malas. Maka ketidakpuasan diperlakukan seperti bahan bakar.
Dan memang, ia dapat menggerakkan kita. Takut gagal dapat membuat seseorang bekerja sangat keras. Takut mengecewakan dapat membuat kita selalu hadir untuk orang lain. Takut dianggap tidak berguna dapat membuat kita terus menghasilkan sesuatu bahkan ketika tubuh sudah meminta berhenti.
Dari luar, kehidupan seperti itu dapat terlihat penuh pencapaian. Dari dalam, tidak pernah terasa seperti sampai. Keberhasilan hanya memberi kelegaan singkat sebelum standar berikutnya muncul. Istirahat terasa harus diperoleh. Pujian sulit diterima. Kesalahan kecil terasa sangat memalukan.
Bukan karena pencapaian tidak penting. Pekerjaan dapat memberi kepuasan. Uang dapat memberi keamanan. Keahlian dapat memberi rasa mampu. Pengakuan dapat terasa menyenangkan. Tetapi semua itu menjawab pertanyaan yang berbeda.
Mereka dapat menjawab apa yang telah saya lakukan? atau apa yang mampu saya lakukan? Mereka tidak selalu mampu menjawab apakah saya masih mempunyai nilai ketika semua itu sedang tidak ada?
Pertanyaan itu biasanya menjadi lebih terlihat ketika sesuatu yang selama ini kita gunakan untuk mengenali diri mulai berubah. Pekerjaan hilang. Tubuh tidak lagi sama. Karier berhenti naik. Hubungan berakhir. Kemampuan yang dahulu mudah mulai membutuhkan lebih banyak tenaga. Bukan hanya kehilangan itu yang terasa berat. Kita juga dapat kehilangan salah satu cara utama untuk menjawab pertanyaan tentang siapa diri kita.
Di titik seperti itu, perbedaan antara ingin menjadi lebih baik dan merasa diri sekarang tidak layak menjadi penting. Kita boleh ingin lebih sehat tanpa menjadikan tubuh hari ini sebagai musuh. Kita boleh ingin lebih terampil tanpa harus menyebut diri bodoh. Kita boleh menyesali cara kita pernah memperlakukan seseorang tanpa menyimpulkan bahwa kita tidak mampu mencintai.
Pertumbuhan tidak membutuhkan penghinaan sebagai syarat.
Bersikap lebih adil kepada diri juga bukan berarti menghapus kekurangan. Ada hari ketika kita memang kurang sabar, kurang hadir, atau kurang disiplin. Ada kemampuan yang memang belum kita miliki. Ada keputusan yang memang buruk. Tidak semua rasa kurang adalah khayalan.
Tetapi kurang dalam sesuatu berbeda dari menjadi manusia yang kurang. Perbedaan itu kecil dalam kata-kata dan sangat besar ketika dijalani. Sebuah usaha saya gagal berbeda dari saya adalah kegagalan. Saya belum memahami ini berbeda dari saya bodoh. Seseorang tidak memilih saya berbeda dari saya tidak layak dipilih.
Yang pertama memberi kenyataan sebuah ukuran. Yang kedua mengambil satu kenyataan dan membiarkannya menjelaskan seluruh diri.
Kadang standar yang kita gunakan sendiri juga belum pernah benar-benar diperiksa. Ia mungkin datang dari keluarga, lingkungan, pekerjaan, pasangan, budaya, atau diri kita pada usia yang jauh lebih muda. Tidak semua standar itu buruk. Sebagian mungkin pernah membantu kita tumbuh atau bertahan.
Tetapi sesuatu yang dahulu berguna tidak harus menjadi hukum seumur hidup. Definisi keberhasilan boleh berubah ketika hidup berubah. Sesuatu yang dulu sangat penting boleh kehilangan tempat. Sesuatu yang dahulu dianggap kelemahan boleh dipahami dengan cara yang berbeda.
Mungkin kata cukup juga tidak harus berarti bahwa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Ia dapat berarti sesuatu yang lebih sederhana: penghormatan terhadap diri tidak lagi ditunda sampai seluruh kekurangan selesai.
Tidak ada manusia yang selesai. Selalu akan ada sesuatu yang belum dipahami, kemampuan yang belum matang, keputusan yang keliru, atau bagian diri yang baru terlihat ketika hidup berubah. Jika hak untuk menghormati diri baru diberikan setelah semua itu hilang, kita sebenarnya sedang menunggu menjadi sesuatu yang bukan manusia.
Menariknya, kita sering mengetahui ini dengan sangat baik ketika yang sedang dinilai adalah orang lain. Seseorang yang kita sayangi dapat gagal tanpa seluruh dirinya berubah menjadi kegagalan. Ia dapat lelah tanpa kita menyebutnya malas. Ia dapat membuat keputusan buruk tanpa seluruh kebaikannya menghilang.
Kita dapat melihat konteks, niat, keterbatasan, usaha, bagian yang baik, dan bagian yang masih perlu diperbaiki. Keadilan yang sama sering jauh lebih sulit diberikan ketika arahnya kembali kepada diri sendiri. Mungkin karena kita takut keadilan akan berubah menjadi pembelaan, seolah jika tidak menghukum diri, kita akan berhenti bertanggung jawab.
Padahal melihat diri secara adil justru berarti seluruh bukti boleh masuk. Yang gagal dan yang berhasil. Yang kita sesali dan yang pernah kita lakukan dengan baik. Hari ketika kita menyerah terlalu cepat dan hari ketika kita bertahan lebih lama daripada yang pernah kita kira mampu.
Diri manusia terlalu luas untuk diringkas oleh satu sisi.
Karena itu, jalan keluar dari perasaan tidak cukup baik mungkin bukan berusaha meyakinkan diri bahwa kita sebenarnya luar biasa. Kita tidak perlu menjadi luar biasa setiap saat. Itu hanya ukuran lain yang harus dipertahankan.
Mungkin yang lebih penting adalah mempunyai hubungan dengan diri yang cukup luas untuk membiarkan kegagalan tetap menjadi kegagalan, keberhasilan tetap menjadi keberhasilan, dan keduanya tidak diberi kekuasaan untuk menentukan nilai seluruh manusia.
Jika rasa tidak berharga menjadi begitu berat sampai muncul keinginan untuk menghilang, menyakiti diri, atau keyakinan bahwa hidup tidak layak diteruskan, pertanyaan tentang nilai diri tidak perlu diselesaikan sendirian. Pada keadaan seperti itu, keselamatan lebih dahulu, dan manusia lain perlu masuk ke dalam keadaan tersebut bersama Anda.
Tetapi perasaan tidak cukup baik tidak selalu berada di sana. Sering kali ia hadir lebih sunyi, sebagai ukuran yang dibawa dari satu hari ke hari berikutnya. Kita masih hidup, bekerja, mencintai, berusaha, memperbaiki kesalahan, dan tetap saja ada bagian diri yang bertanya apakah semua itu sudah cukup.
Mungkin pertanyaannya tidak perlu segera dijawab dengan ya.
Mungkin pertanyaannya dapat berubah sedikit: cukup menurut ukuran siapa?
Dari sana, sesuatu dapat terlihat lebih jelas. Mungkin memang ada bagian yang perlu diperbaiki. Mungkin ada sesuatu yang perlu diterima sebagai batas. Dan mungkin ada bagian dari diri yang selama ini tidak meminta menjadi lebih hebat.
Ia hanya lelah harus terus membuktikan bahwa dirinya pantas berada di sini.
Kita masih boleh bertumbuh.
Tetapi hidup tidak harus menunggu sampai kita selesai.