CATATAN EDITORIAL

Ketika overthinking

Ada saat ketika sebuah persoalan sebenarnya sudah selesai dibicarakan, tetapi belum selesai di dalam kepala. Percakapannya sudah berakhir. Pesannya sudah dikirim. Keputusan mungkin bahkan sudah dibuat. Kita sedang mandi, bekerja, menyetir, mencuci piring, atau mencoba tidur, lalu pikiran kembali ke tempat yang sama seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.

Kita mengingat satu kalimat. Lalu nada ketika kalimat itu diucapkan. Setelah itu ekspresi wajah seseorang. Beberapa menit kemudian kita sudah tidak lagi memikirkan apa yang benar-benar terjadi, tetapi apa yang mungkin dimaksud, apa yang seharusnya kita katakan, dan apa yang akan terjadi kalau dugaan kita ternyata benar.

Kadang yang dipikirkan bukan percakapan. Ada keputusan yang belum dibuat. Kita mempertimbangkan satu pilihan, menemukan kelemahannya, berpindah ke pilihan lain, lalu menemukan risiko yang berbeda. Setiap kali hampir merasa yakin, muncul kemungkinan baru. Kita kembali ke awal karena keputusan itu terasa belum cukup aman untuk diambil.

Atau sesuatu bahkan belum terjadi. Ada pertemuan besok. Jawaban yang sedang ditunggu. Perubahan yang mungkin datang. Kita mulai membayangkan apa saja yang dapat terjadi agar lebih siap. Awalnya terasa berguna. Setelah beberapa putaran, kita sudah menyiapkan jawaban untuk percakapan yang belum tentu terjadi.

Hal seperti ini sering disebut overthinking. Kata itu terdengar sederhana, hampir seperti kebiasaan buruk yang semestinya dapat dihentikan kalau kita cukup disiplin. Dari dalam, biasanya tidak sesederhana itu. Kita tidak terus berpikir karena menikmati kelelahan. Sering kali ada sesuatu yang sedang berusaha dijaga.

Mungkin kita tidak ingin membuat kesalahan. Tidak ingin mengecewakan seseorang. Tidak ingin kehilangan kesempatan, mempercayai orang yang salah, atau suatu hari mengetahui bahwa sebenarnya ada tanda yang terlewat. Pikiran terus kembali karena akibat dari salah membaca keadaan terasa penting.

Kemampuan itu sendiri bukan masalah. Manusia memang dapat mengingat, membandingkan, mengenali pola, membayangkan akibat, dan berpikir beberapa langkah ke depan. Banyak keputusan menjadi lebih baik karena kita mampu melakukan semua itu.

Masalahnya mulai berubah ketika pikiran terus bekerja tetapi tidak lagi memperoleh sesuatu yang baru. Percakapan yang sama dibuka dari sisi lain. Data yang sama diperiksa lagi. Keputusan yang sama ditimbang menggunakan alasan yang sudah diketahui. Kita berharap satu putaran tambahan akan memberikan sesuatu yang selama ini terlewat.

Kadang memang ada pemahaman baru. Tetapi kadang satu jam kemudian kita hanya lebih lelah daripada satu jam sebelumnya.

Ada perbedaan antara pikiran yang bergerak dan pikiran yang berputar.

Dari dalam, keduanya dapat terasa sama. Kita masih aktif memikirkan sesuatu. Masih menemukan kalimat baru. Masih memindahkan berbagai kemungkinan. Tetapi pikiran yang bergerak membawa kita ke suatu tempat, meskipun hanya sedikit. Pikiran yang berputar membawa kita kembali ke pertanyaan yang sama melalui jalan yang berbeda.

Putaran itu mudah dimulai ketika informasi tidak lengkap. Pesan yang biasanya cepat dibalas sekarang belum dijawab. Nada seseorang terasa sedikit berbeda. Kita merasa suasana berubah setelah mengatakan sesuatu. Belum ada cukup informasi untuk menyimpulkan apa pun, tetapi juga belum ada cukup informasi untuk merasa tenang.

Di ruang seperti itu, pikiran mulai mengisi bagian yang kosong. Mungkin dia marah. Mungkin saya mengatakan sesuatu yang salah. Mungkin ada sesuatu yang belum saya tahu. Kemudian muncul kemungkinan yang berlawanan. Mungkin tidak terjadi apa-apa. Tetapi kalau memang tidak terjadi apa-apa, mengapa rasanya berbeda?

Ketidakpastian mempunyai daya yang aneh. Kadang jawaban yang buruk terasa lebih mudah ditanggung daripada tidak mempunyai jawaban sama sekali. Kalau kita sudah tahu apa yang terjadi, setidaknya kita tahu apa yang sedang dihadapi. Yang membuat pikiran terus bekerja sering justru ruang antara belum tahu dan ingin tahu sekarang.

Tidak semua ruang itu dapat ditutup dengan berpikir. Ada jawaban yang berada di tangan orang lain. Ada yang membutuhkan waktu. Ada yang baru akan terlihat setelah sebuah pilihan dijalani. Ada pula pertanyaan yang memang tidak pernah memberikan kepastian sebanyak yang kita inginkan.

Pikiran tidak selalu mudah menerima batas tersebut. Jika masalah belum selesai, mungkin usaha belum cukup. Jika jawaban belum ditemukan, mungkin masih ada sudut yang belum diperiksa. Maka kita mencoba lagi.

Seseorang dapat sangat teliti, bertanggung jawab, dan terbiasa mempertimbangkan akibat, lalu justru lebih mudah terjebak di sini. Kemampuan melihat banyak sisi membuat kita juga dapat melihat banyak hal yang mungkin salah. Semakin banyak konsekuensi yang terlihat, semakin sulit menemukan pilihan yang terasa aman.

Padahal beberapa keputusan memang tidak mempunyai jalan yang bebas dari kehilangan. Kita dapat ingin menjaga sebuah hubungan sekaligus ingin jujur. Ingin merasa aman sekaligus tahu bahwa sesuatu harus berubah. Ingin mengatakan tidak dan tetap tidak ingin mengecewakan seseorang.

Dalam keadaan seperti itu, kepala kadang mencari pilihan yang tidak mempunyai harga. Kita memikirkan semuanya lagi dengan harapan akan ditemukan jalan yang tidak menyakiti siapa pun, tidak membuat kita kehilangan apa pun, dan tidak menimbulkan penyesalan.

Kadang jalan seperti itu ada. Kadang tidak.

Jika tidak ada, terus berpikir belum tentu berarti keputusan yang benar masih tersembunyi. Mungkin yang sulit diterima adalah bahwa keputusan yang cukup baik pun dapat membawa akibat yang tidak menyenangkan. Keraguan tidak selalu menjadi bukti bahwa kita belum tahu. Kadang ia hanya menunjukkan bahwa sesuatu yang penting memang sedang dipertaruhkan.

Hal yang sama dapat terjadi ketika pikiran kembali ke masa lalu. Percakapan yang sudah selesai diputar ulang dengan ketelitian yang baru muncul setelah semuanya berakhir. Kita menemukan kalimat yang seharusnya dikatakan, waktu yang lebih tepat untuk diam, atau keputusan yang sekarang terlihat jelas.

Kembali memikirkan masa lalu tidak selalu sia-sia. Kita memang belajar dengan melihat kembali apa yang terjadi. Kadang baru beberapa hari kemudian kita memahami mengapa sesuatu begitu mengganggu atau di mana sebuah keadaan mulai berubah.

Tetapi pembelajaran mempunyai titik ketika tidak ada informasi baru yang tersisa. Setelah itu, pikiran dapat tetap kembali seolah masa lalu masih mempunyai pintu yang dapat dibuka kalau kita menganalisisnya dengan cukup baik.

Kata kalau membuat banyak pintu semacam itu. Kalau waktu itu saya diam. Kalau saya lebih peka. Kalau saya memilih yang lain. Di dalam kepala kita dapat menjalani seluruh versi kehidupan yang tidak pernah terjadi dengan pengetahuan yang baru kita peroleh setelah kejadian selesai.

Penyesalan dapat nyata tanpa berarti masa lalu masih dapat diedit. Kita dapat mengakui kesalahan, memahami sesuatu dengan lebih baik, dan tetap tidak mempunyai akses kepada diri kita yang dahulu selain melalui apa yang sudah terjadi.

Pikiran juga dapat berputar karena kita sedang mencoba mengetahui bagaimana diri kita terlihat di mata orang lain. Setelah sebuah pertemuan selesai, komentar kecil terasa terlalu terbuka. Kita merasa terlalu banyak bicara, terlalu diam, kurang hangat, atau kurang tegas. Orang lain mungkin sudah melanjutkan harinya. Kita masih berada di ruangan yang sudah kosong.

Yang sedang diperiksa sering lebih besar daripada satu percakapan. Kita ingin dianggap baik, mampu, dapat dipercaya, tidak merepotkan. Maka sebuah reaksi kecil dari orang lain mulai dipakai untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih besar tentang diri sendiri.

Seseorang belum membalas pesan, tetapi yang kita cari diam-diam mungkin bukan hanya alasan ia belum membalas. Kita sedang mencoba mengetahui apakah kita masih berarti baginya. Sebuah pekerjaan dikritik, tetapi yang diperiksa bukan hanya pekerjaan itu. Kita mulai bertanya apakah kita memang cukup mampu berada di sana.

Karena itu nasihat jangan dipikirkan sering tidak bekerja. Bagi bagian diri yang sedang berusaha menjaga sesuatu yang penting, berhenti berpikir dapat terasa seperti berhenti berjaga.

Ada orang yang memang telah lama terbiasa berjaga. Ia menjadi orang yang mengingat, mengantisipasi, membaca perubahan kecil, atau memastikan persoalan tertangani sebelum menjadi lebih besar. Cara berpikir beberapa langkah ke depan mungkin telah membantu banyak hal tetap berjalan.

Ketika keadaan sedang tenang, kemampuan itu tidak otomatis ikut berhenti. Kepala masih mencari apa yang perlu diperhatikan karena selama ini perhatian semacam itulah yang terasa menjaga keadaan tetap aman. Kepekaan dapat sangat berguna. Tetapi merasakan bahwa sesuatu berbeda belum sama dengan mengetahui dengan pasti apa arti perbedaan itu.

Malam sering membuat batas tersebut semakin sulit terlihat. Pada siang hari perhatian dibagi oleh pekerjaan, orang lain, suara, jalan, dan berbagai kebutuhan nyata. Ketika semuanya mereda, hal yang belum selesai mendapatkan ruang yang jauh lebih besar.

Pukul dua pagi, satu persoalan dapat terasa seperti seluruh kehidupan. Tubuh sudah lelah, tetapi kepala masih mencoba menyelesaikan percakapan lama, keputusan minggu depan, atau masa depan yang belum terjadi. Tidak ada informasi baru yang masuk, tetapi urgensinya terus meningkat.

Kita lalu mencoba menghentikan pikiran dengan memerintahnya diam. Ketika tidak berhasil, muncul masalah kedua: Mengapa saya tidak bisa berhenti? Kenapa saya selalu seperti ini? Pikiran yang tadi mencoba menyelesaikan persoalan sekarang juga harus menyelesaikan dirinya sendiri.

Mungkin tidak semua pikiran perlu dihentikan. Sebagian memang membawa sesuatu yang layak diperhatikan. Ada percakapan yang belum selesai, batas yang terus dilewati, tanggung jawab yang benar-benar perlu ditangani, atau keputusan yang terus kembali karena memang ada sesuatu yang belum dibereskan.

Tetapi perhatian berbeda dari ketaatan. Sebuah pikiran dapat didengar tanpa langsung dipercaya. Kemungkinan dapat diperiksa tanpa diperlakukan sebagai kenyataan. Kekhawatiran dapat dianggap penting tanpa harus menerima seluruh waktu yang tersedia.

Pikiran yang membantu biasanya meninggalkan sesuatu yang sedikit lebih jelas. Ada informasi yang perlu dicari. Pertanyaan yang perlu diajukan. Keputusan yang belum perlu dibuat hari ini. Atau kesadaran sederhana bahwa memang ada bagian yang belum diketahui.

Pikiran yang berputar sering meninggalkan permintaan yang sama dalam bentuk berbeda: beri saya kepastian.

Dan kehidupan tidak selalu dapat memberikannya.

Kita tidak dapat mengetahui seluruh akibat sebuah pilihan sebelum menjalaninya. Tidak dapat memastikan seseorang tidak akan berubah. Tidak dapat menjamin usaha akan berhasil, hubungan akan bertahan, atau diri kita di masa depan tidak akan menyesali sesuatu yang hari ini terasa tepat. Hidup sering meminta kita bergerak sebelum seluruh data tersedia.

Ada titik ketika kita sudah mempersiapkan sejauh yang masuk akal. Kita telah membaca keadaan, bertanya, mempertimbangkan risiko, dan mencoba memahami apa yang diketahui. Setelah titik itu, yang tersisa bukan kurangnya usaha. Memang ada bagian yang hanya dapat diketahui dengan hidup melewatinya.

Kadang yang sebenarnya kita tunggu bukan informasi baru. Kita menunggu rasa takut menghilang.

Sayangnya, rasa takut tidak selalu pergi hanya karena sebuah keputusan cukup tepat. Kita dapat mengatakan sesuatu yang perlu dikatakan dan tetap merasa bersalah. Menetapkan batas yang masuk akal dan tetap bertanya apakah kita terlalu keras. Meninggalkan sesuatu yang tidak lagi baik bagi kehidupan dan tetap merindukan bagian yang dahulu pernah indah.

Emosi tidak selalu datang untuk mengesahkan keputusan kita. Ragu setelah memilih tidak otomatis berarti pilihan itu salah.

Ada pula putaran yang muncul karena kita mencoba memahami orang lain sampai tuntas. Mengapa dia melakukan itu? Apa sebenarnya maksudnya? Apakah ia sadar tindakannya menyakitkan? Kita masuk semakin jauh ke kepala seseorang karena perilakunya mempunyai akibat nyata pada hidup kita.

Memahami memang dapat membantu. Tetapi kita mungkin tidak pernah mengetahui seluruh alasan seseorang. Pada suatu titik, penjelasan tentang mengapa ia melakukan sesuatu dapat tetap tidak tersedia sementara kenyataan tentang bagaimana perilakunya memengaruhi kita sudah cukup jelas.

Hal serupa dapat terjadi terhadap diri sendiri. Kita merasa harus memahami alasan sebuah perasaan sebelum membiarkannya mempunyai tempat. Mengapa saya terganggu? Mengapa saya cemburu? Mengapa saya masih memikirkan ini? Seolah perasaan harus memenangkan sebuah perkara terlebih dahulu agar boleh dianggap nyata.

Ada perasaan yang menjadi lebih jelas setelah dipikirkan. Ada pula yang baru dapat dipahami setelah tidak lagi dipaksa memberi jawaban saat itu juga. Kadang kita hanya tahu bahwa sesuatu terasa berat, sebuah percakapan meninggalkan jejak, atau keputusan tertentu belum terasa selesai. Penjelasan lengkap dapat datang kemudian.

Kadang overthinking bahkan bukan tanda bahwa kita terlalu jauh dari jawaban. Bisa jadi kita sudah cukup dekat dengan sesuatu yang sulit diterima. Kita tahu sebuah keadaan perlu berubah, tetapi perubahan mempunyai harga. Kita tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi takut hubungan akan berbeda setelahnya. Kita tahu sebuah pilihan tidak lagi cocok, tetapi belum siap meninggalkan kehidupan yang dibangun di sekelilingnya.

Dalam keadaan seperti itu, berpikir dapat menjadi ruang tunggu. Selama semuanya masih dianalisis, belum ada yang harus diputuskan.

Itu tidak selalu buruk. Manusia kadang membutuhkan waktu agar seluruh dirinya menyusul sesuatu yang sudah lebih dahulu dipahami oleh kepala. Tetapi ada perbedaan antara saya belum tahu dan saya mungkin sudah tahu, tetapi belum siap dengan akibatnya. Tambahan analisis tidak melakukan pekerjaan yang sama pada keduanya.

Ada juga hari ketika tidak ada satu persoalan besar. Kepala hanya sangat penuh. Banyak hal kecil belum selesai dan semuanya meminta tempat pada waktu yang hampir bersamaan. Kita sedang melakukan satu hal sambil mengingat tiga hal lain. Ketika mencoba beristirahat, semuanya datang kembali agar tidak terlupakan.

Kadang kepala bukan kekurangan jawaban. Ia hanya terlalu penuh untuk merasa tenang.

Bentuk overthinking dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Hubungan. Pekerjaan. Uang. Masa lalu. Masa depan. Keputusan kecil yang tidak terlihat penting bagi siapa pun selain orang yang sedang menjalaninya. Tetapi di bawah banyak bentuk itu sering ada dorongan yang dapat dimengerti: jangan sampai saya melewatkan sesuatu yang penting.

Masalahnya, tidak mungkin memperhatikan semua hal dengan intensitas penuh sepanjang waktu. Sebagian pertanyaan memang harus tetap terbuka untuk sementara. Bukan dibuang. Bukan dianggap sepele. Hanya belum dapat diselesaikan sekarang.

Memberi jarak tidak selalu berarti menghindar. Sebuah persoalan masih dapat penting besok. Percakapan masih dapat dibahas setelah kita tidur. Keputusan masih dapat dipikirkan lagi setelah tubuh makan dan keadaan berubah. Tidak semua bentuk berhenti adalah kelalaian.

Sebuah pikiran juga dapat muncul tanpa menjadi perintah. Bagaimana kalau semuanya gagal? Itu sebuah kemungkinan, bukan kejadian. Bagaimana kalau dia marah? Mungkin. Kita belum tahu. Bagaimana kalau keputusan ini salah? Kemungkinan itu ada. Ia tidak harus langsung mengambil bentuk kenyataan.

Ketakutan yang muncul tetap nyata. Tubuh yang tegang nyata. Kekhawatiran nyata. Tetapi dunia yang sedang dibangun oleh pikiran mungkin belum terjadi.

Ada jarak besar antara mempunyai sebuah pikiran dan harus tinggal di dalamnya.

Yang diketahui dapat diperlakukan sebagai kenyataan. Yang belum diketahui dapat tetap menjadi pertanyaan. Yang memang dapat dilakukan mungkin memerlukan percakapan, informasi, atau keputusan nyata. Dan yang tidak berada dalam kendali kita mungkin memang harus menunggu sesuatu di luar kepala memberikan bagian berikutnya.

Tidak semuanya dapat diselesaikan dengan berpikir lebih lama.

Mungkin justru itulah bagian yang paling sulit. Selama masih berpikir, kita merasa masih melakukan sesuatu. Berhenti dapat terasa seperti melepaskan penjagaan. Seolah kalau persoalan itu tidak diawasi selama beberapa jam, sesuatu yang buruk akan terjadi tanpa kita mengetahuinya.

Padahal masa depan tetap belum datang ketika kita tidur. Masa lalu tetap tidak berubah. Orang lain tetap mempunyai pikirannya sendiri. Pertanyaan yang belum mempunyai jawaban tetap dapat ada tanpa harus dijaga setiap menit.

Kita mungkin bangun besok dan persoalannya masih ada.

Tetapi mungkin pertanyaannya dapat sedikit berubah. Bukan lagi mengapa pikiran ini belum berhenti?, melainkan apa yang sebenarnya sedang saya coba jaga?

Mungkin sebuah hubungan. Rasa aman. Harga diri. Masa depan. Seseorang yang dicintai. Keinginan untuk tidak mengulangi kesalahan. Keinginan menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Hal-hal itu memang penting.

Tetapi penting tidak selalu berarti harus dipikirkan tanpa akhir.

Kadang kita sudah memperoleh sebanyak yang dapat diberikan oleh pikiran untuk hari itu. Persoalannya belum hilang. Jawabannya mungkin juga belum datang.

Hanya saja, untuk sementara, tidak ada lagi yang harus ditemukan malam ini.