CATATAN EDITORIAL

Ketika ada hal yang sulit diterima

Hubungan itu sudah selesai, tetapi tangan masih ingin mengirim pesan ketika sesuatu terjadi. Hasil pemeriksaan sudah keluar, tetapi pikiran masih mencari kemungkinan bahwa mungkin ada kekeliruan. Sebuah keputusan sudah dibuat dan tidak berada di tangan kita, tetapi di kepala percakapan tentang bagaimana seharusnya semuanya terjadi masih terus berlangsung.

Kita dapat mengetahui sebuah kenyataan jauh sebelum seluruh diri siap hidup di dalamnya.

Secara fakta, kita tahu. Secara batin, belum tentu.

Jarak antara keduanya kadang membuat seseorang merasa ada yang salah dengan dirinya. Kenapa saya belum bisa menerima? Kenapa saya masih kembali ke sini? Kenapa orang lain tampaknya sudah berjalan sementara saya masih seperti tertahan di tempat yang sama?

Lalu datang kata yang sering diberikan dengan mudah dari luar: ikhlaskan.

Maksudnya mungkin baik. Tetapi ketika datang terlalu cepat, kata itu dapat terdengar seperti tenggat. Seolah ada titik ketika seseorang seharusnya sudah berhenti marah, berhenti berharap, berhenti mempertanyakan, lalu menerima semuanya dengan tenang.

Manusia jarang berpindah sebersih itu.

Menerima kenyataan bukan keputusan tunggal yang dibuat sekali lalu selesai. Kita dapat memahami bahwa sesuatu sudah berakhir dan masih terkejut ketika hidup benar-benar berjalan tanpanya. Kita dapat tahu bahwa suatu keadaan tidak dapat dikembalikan seperti semula dan tetap, untuk beberapa waktu, hidup seolah masih mencari jalan pulang.

Sebab yang berubah sering kali bukan hanya satu fakta.

Ketika sebuah hubungan berakhir, yang hilang mungkin bukan hanya seseorang. Ada kebiasaan kecil, tempat bercerita, cara akhir pekan dijalani, dan masa depan yang diam-diam sudah mulai dianggap nyata.

Ketika pekerjaan hilang, yang terguncang mungkin bukan hanya penghasilan. Ada ritme hari, rasa berguna, lingkungan sosial, dan sebagian jawaban terhadap pertanyaan saya ini siapa.

Ketika tubuh berubah karena sakit, usia, kecelakaan, atau keadaan lain, cara lama mengenali diri sendiri dapat ikut berubah.

Dan ketika seseorang meninggal, kehilangan bahkan mempunyai masa depan. Kita kehilangan percakapan yang belum terjadi, hari-hari berikutnya, pertanyaan yang suatu hari ingin ditanyakan, serta versi diri kita yang hanya muncul ketika bersama orang itu.

Karena itu menerima tidak selalu berarti memasukkan satu informasi baru ke dalam kepala. Kadang seluruh peta kehidupan harus digambar ulang.

Tidak aneh jika proses itu membutuhkan waktu.

Ada kenyataan yang sulit diterima bukan karena kita tidak memahaminya, tetapi karena kenyataan itu terasa tidak adil.

Di sini kata menerima sendiri dapat terasa mengganggu. Seolah menerima berarti mengatakan bahwa pengkhianatan dapat dibenarkan, bahwa kekerasan harus dimaafkan, atau bahwa sesuatu yang merampas kehidupan yang kita harapkan akhirnya harus dianggap baik.

Padahal menerima fakta dan memberikan persetujuan moral kepada fakta itu adalah dua hal berbeda.

Seseorang dapat mengatakan, ini memang terjadi, dan pada saat yang sama mengatakan, ini seharusnya tidak terjadi.

Kedua kalimat itu dapat sama-sama benar.

Menerima bahwa seseorang telah menyakiti kita tidak menghapus hak untuk marah, menjaga jarak, meminta pertanggungjawaban, atau melindungi diri. Menerima bahwa sebuah keputusan telah dibuat tidak berarti kita tidak boleh menempuh jalan yang masih tersedia untuk mengubahnya.

Kadang menerima hanya berarti berhenti meminta fakta menjadi fakta lain sebelum kita bersedia melihat apa yang masih dapat dilakukan sekarang.

Itu berbeda dari menyerah.

Menyerah dapat berarti meninggalkan sesuatu yang sebenarnya masih mungkin diperjuangkan. Penerimaan justru dapat membantu membedakan apa yang masih berada dalam jangkauan kita dan apa yang tidak.

Jika perlindungan masih diperlukan, kita melindungi diri. Jika keputusan masih dapat digugat, masih ada ruang untuk menggugatnya. Jika pengobatan masih dapat dilakukan, tindakan tetap mempunyai tempat.

Tetapi ada pula bagian hidup yang tidak bergerak meskipun kita berdebat dengannya setiap hari.

Di sanalah perlawanan sering mempunyai alasan.

Kadang kita terus mencari penjelasan karena selama masih ada sesuatu yang belum kita pahami, cerita belum benar-benar terasa selesai. Kita mengulang percakapan, membaca kembali pesan, mencari tanda yang terlewat, membayangkan jawaban lain yang seharusnya diberikan.

Kadang kita terus berharap karena harapan menjaga sebuah pintu tetap terbuka. Selama masih ada kemungkinan, kita belum harus sepenuhnya bertemu dengan kehilangan.

Harapan bukan musuh. Banyak kehidupan bertahan karenanya.

Tetapi harapan dapat membantu seseorang berjalan menuju sesuatu yang masih mungkin terjadi, dan dapat pula membuat seseorang berdiri sangat lama di depan sesuatu yang sudah tidak lagi dapat dibuka.

Membedakan keduanya tidak selalu mudah.

Orang dari luar sering merasa lebih cepat tahu. Mereka melihat fakta yang sama, tetapi tidak hidup di dalam arti yang sama.

Kadang kita sendiri juga belum tahu.

Mungkin karena itu kata belum lebih manusiawi daripada kata tidak bisa.

Saya belum bisa menerima ini.

Di dalam kalimat itu masih ada ruang. Ia tidak memaksa kita berpura-pura sudah sampai di tempat yang belum kita capai. Tetapi ia juga tidak menjadikan keadaan hari ini sebagai ramalan tentang seluruh hidup.

Sebab ada kenyataan yang terlalu besar jika harus diterima sekaligus.

Seseorang yang baru kehilangan pasangan mungkin belum sanggup memikirkan seluruh sisa hidup tanpa orang itu. Yang dapat disentuh hari ini mungkin hanya kenyataan bahwa malam ini rumah akan terasa berbeda.

Seseorang yang baru menerima diagnosis mungkin belum sanggup menampung seluruh kemungkinan beberapa tahun ke depan. Yang ada di hadapannya mungkin hanya hasil pemeriksaan hari ini dan percakapan berikutnya dengan dokter.

Kadang kenyataan besar baru dapat dihampiri dalam ukuran yang lebih kecil daripada keseluruhan cerita.

Bukan karena keseluruhan cerita tidak penting.

Karena kapasitas manusia juga mempunyai ukuran.

Penelitian tentang fleksibilitas psikologis memberi sedikit bahasa untuk pengalaman ini. Penerimaan tidak berarti membuat sesuatu yang menyakitkan menjadi menyenangkan. Ia lebih dekat pada kemampuan untuk tetap berhubungan dengan apa yang memang sedang terjadi tanpa seluruh tenaga habis untuk melawan pikiran dan perasaan yang belum dapat dihilangkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya jauh lebih berantakan daripada definisi itu.

Kita dapat mengatakan sudah menerima pada hari Senin, lalu hari Kamis kembali marah.

Kita dapat baik-baik saja sepanjang pagi, lalu sebuah lagu, tempat, tanggal, atau bau tertentu membuat semuanya kembali begitu dekat.

Kita dapat mengetahui bahwa seseorang tidak akan kembali dan masih sesekali, selama satu detik, lupa bahwa ia sudah tidak ada.

Itu tidak selalu berarti prosesnya gagal.

Penelitian tentang duka juga menunjukkan bahwa penyesuaian tidak harus bergerak satu arah menuju keadaan selesai. Manusia dapat bergerak bolak-balik antara menghadapi kehilangan dan kembali mengurus kehidupan yang tetap berjalan. Kadang kita menangis. Kadang kita bekerja. Kadang kita mengingat. Kadang kita tertawa.

Karena itu penerimaan tidak harus terlihat seperti ketenangan yang terus-menerus.

Seseorang dapat menerima sebuah perpisahan dan tetap merindukan orangnya. Dapat menerima kematian dan masih menangis bertahun-tahun kemudian. Dapat menerima tubuh yang berubah sambil tetap merindukan tubuh yang dahulu.

Penerimaan tidak selalu menghapus rasa.

Yang mungkin berubah perlahan adalah hubungan kita dengan kenyataan yang melahirkan rasa itu.

Pada awalnya, sebuah kejadian dapat meminta hampir seluruh perhatian. Setiap pagi pikiran langsung kembali ke sana. Setiap rencana harus melewatinya. Setiap percakapan seperti mempunyai jalan rahasia menuju hal yang sama.

Lalu suatu hari ada beberapa menit ketika kita tidak memikirkannya.

Ada percakapan yang membuat kita tertawa.

Ada makanan yang kembali terasa enak. Ada pekerjaan yang menyerap perhatian. Ada sesuatu kecil yang ingin dilakukan minggu depan.

Kejadiannya belum berubah.

Tetapi kehidupan mulai mempunyai ruang lain.

Kadang justru saat ruang itu muncul, rasa bersalah ikut datang.

Kalau saya mulai baik-baik saja, apakah berarti hal itu sebenarnya tidak terlalu penting? Kalau saya tidak sesakit dulu, apakah berarti saya mulai melupakan?

Manusia kadang menghubungkan rasa sakit dengan kesetiaan. Selama masih sakit, berarti kita masih menjaga sesuatu. Selama masih hancur, berarti kehilangan itu benar-benar mempunyai arti.

Tetapi rasa sakit bukan satu-satunya cara untuk menghormati sesuatu yang pernah penting.

Ingatan tidak membutuhkan luka dengan intensitas yang sama agar tetap menjadi ingatan. Cinta tidak harus dibuktikan dengan tetap tinggal di hari ketika kehilangan terjadi. Sesuatu dapat terus mempunyai tempat dalam hidup tanpa terus mengambil seluruh tempat.

Ada pula kenyataan yang sulit diterima karena ia mengubah cara kita melihat seseorang.

Orangnya mungkin masih ada. Namun sebuah kebohongan, pengkhianatan, atau sesuatu yang baru diketahui membuat gambaran lama tidak lagi dapat dipertahankan.

Yang hilang pada keadaan seperti ini kadang bukan tubuh seseorang, melainkan versi dirinya yang selama ini hidup di dalam pemahaman kita. Kehilangan terhadap sebuah gambaran pun dapat terasa nyata.

Hal serupa dapat terjadi terhadap diri sendiri.

Kita menemukan bahwa ternyata kita mampu melakukan sesuatu yang dulu kita kira tidak akan pernah kita lakukan. Kita menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dikejar bukan lagi kehidupan yang diinginkan. Kita harus mengakui sebuah kesalahan atau melihat batas yang selama ini tidak mau dilihat.

Lalu pertanyaannya bukan hanya apa yang terjadi?

Pertanyaannya dapat menjadi kalau ini benar, sekarang saya siapa?

Tidak semua jawaban harus segera tersedia.

Ada masa ketika bentuk lama diri sudah tidak sepenuhnya cocok, sementara bentuk berikutnya belum jelas. Ruang di antaranya memang tidak nyaman. Tetapi ketidakjelasan bukan selalu tanda bahwa sesuatu berjalan salah.

Dan tidak semua kenyataan akhirnya berubah menjadi pelajaran yang indah.

Manusia sering dipaksa memberi makna terlalu cepat kepada penderitaan. Seolah kehilangan harus membuat kita lebih bijaksana. Penyakit harus mengajarkan rasa syukur. Pengkhianatan harus membuat kita lebih kuat. Luka harus mempunyai hadiah agar dapat diterima.

Tidak selalu.

Ada hal yang setelah bertahun-tahun tetap akan kita pilih untuk tidak pernah terjadi.

Ada orang yang tetap akan kita minta kembali jika kehidupan memberi kemungkinan itu.

Ada ketidakadilan yang tidak menghasilkan kebijaksanaan sebanding dengan harga yang dibayar.

Kita tidak berutang akhir yang indah kepada setiap hal yang menyakitkan.

Kadang kalimat paling jujur tetap sederhana.

Ini buruk.

Saya berharap ini berbeda.

Dan tetap saja, inilah yang terjadi.

Tidak ada kalimat keempat yang wajib membuat ketiganya terasa masuk akal.

Beberapa pertanyaan memang perlu dicari jawabannya. Fakta perlu diketahui. Tanggung jawab perlu ditentukan. Kesalahan mungkin perlu diperbaiki.

Tetapi ada pertanyaan mengapa yang lama-kelamaan berhenti menghasilkan informasi baru. Ia mulai menjadi cara pikiran mengulangi protes yang sama terhadap sesuatu yang tidak lagi dapat menjawab.

Kenapa harus saya?

Kenapa saat itu?

Kenapa bukan kehidupan yang lain?

Tidak semua pertanyaan seperti itu mempunyai jawaban yang cukup besar untuk rasa sakit yang melahirkannya.

Mungkin menerima tidak berarti berhenti bertanya. Mungkin ada titik ketika hidup tidak lagi menunggu pertanyaan itu selesai sebelum bergerak sedikit ke depan.

Ada perbedaan antara hidup setelah sesuatu terjadi dan hidup seolah sesuatu itu tidak pernah terjadi.

Penerimaan tidak meminta yang kedua.

Apa yang terjadi tetap dapat membentuk kita. Ia dapat mengubah hubungan, keputusan, cara melihat dunia, bahkan arah kehidupan. Yang perlahan mungkin berkurang hanyalah tuntutan agar masa lalu berubah terlebih dahulu sebelum kehidupan sekarang diperbolehkan mempunyai bentuk.

Ada hari ketika hal itu terasa mungkin.

Ada hari ketika tidak.

Kita dapat kembali marah. Kembali berharap. Kembali merasa semuanya tidak adil. Kembali ingin menawar sesuatu yang sudah selesai.

Itu tidak otomatis membawa kita kembali ke awal.

Proses manusia jarang menyerupai garis lurus. Kita membawa sesuatu, meletakkannya sebentar, lalu membawanya lagi. Kadang bebannya sama. Kadang genggaman kita yang berubah.

Jika kenyataan yang harus dihadapi melibatkan kekerasan, ancaman, atau keadaan yang masih membahayakan, menerima bahwa keadaan itu nyata tidak berarti bertahan di dalamnya. Keselamatan tetap lebih dahulu. Mengakui kenyataan dapat justru menjadi bagian dari melihat bahwa perlindungan, jarak, atau bantuan memang diperlukan.

Dan ada kenyataan lain yang tidak berbahaya secara langsung tetapi terlalu berat untuk dibawa sendirian.

Kadang manusia membutuhkan seseorang yang tidak tergesa berkata sudah, ikhlaskan.

Seseorang yang tidak mencoba mengubah luka menjadi pelajaran.

Seseorang yang mampu berada cukup lama bersama kenyataan itu sampai bentuknya perlahan dapat dilihat.

Bukan untuk membuatnya lebih baik daripada yang sebenarnya.

Hanya supaya kita tidak harus terus berpura-pura bahwa ia belum terjadi.

Mungkin penerimaan mulai tumbuh di sana.

Bukan ketika kita menyukai apa yang terjadi.

Bukan ketika kita berhenti merindukan apa yang hilang.

Bukan ketika semua pertanyaan sudah mempunyai jawaban.

Tetapi ketika kenyataan itu perlahan berhenti meminta seluruh kehidupan sebagai harga karena ia pernah terjadi.

Ia tetap ada.

Kita tetap berharap dahulu semuanya berbeda.

Dan sedikit demi sedikit, hidup mempunyai ruang di sekitarnya.