Sulit menjelaskan sesuatu tidak berarti tidak ada sesuatu yang sedang terjadi. Pengalaman manusia tidak selalu datang bersama kata-kata yang tepat. Kadang kita merasakan akibatnya lebih dahulu, baru memahami penyebabnya kemudian.
Tubuh sering memberi tanda sebelum pikiran mempunyai penjelasan. Kita menjadi tegang di situasi tertentu, lebih mudah lelah setelah bertemu seseorang, menunda membuka pesan, sulit tidur, atau ingin menghindari sesuatu yang sebelumnya biasa dijalani. Reaksi seperti itu belum memberi kesimpulan. Tetapi ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang layak diperhatikan.
Ada masa ketika kita bahkan tidak sempat memperhatikan diri sendiri. Kita hanya melakukan apa yang harus dilakukan: bangun, bekerja, mengurus orang lain, menyelesaikan masalah, menjawab pesan, melewati hari. Selama keadaan masih menuntut banyak hal, memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri bisa datang belakangan.
Baru setelah keadaan sedikit lebih tenang, kita menyadari bahwa kita tidak lagi sama. Kita lebih mudah marah. Hal kecil mulai menguras tenaga. Ada bagian kehidupan yang dulu dapat dijalani tanpa banyak berpikir, tetapi sekarang membutuhkan usaha lebih besar. Kadang pemahaman memang tertinggal dari pengalaman.
Ada juga hal yang sulit dijelaskan bukan karena samar, tetapi karena lebih dari satu perasaan hadir sekaligus. Kita dapat mencintai seseorang dan marah kepadanya. Merasa lega sesuatu berakhir dan tetap berduka karena kehilangan. Mengetahui sebuah keputusan perlu diambil dan tetap berharap kita tidak pernah harus mengambilnya.
Dua perasaan yang bertentangan tidak otomatis membuat salah satunya palsu.
Kita sering ingin segera memilih satu jawaban karena satu jawaban tampak lebih rapi. Kalau masih rindu, berarti ingin kembali. Kalau sudah memaafkan, berarti tidak boleh marah. Kalau keputusan itu benar, berarti seharusnya tidak sakit lagi. Tetapi hidup tidak selalu tersusun seperti itu. Kadang dua hal yang tampak berlawanan memang sama-sama benar.
Sebagian pengalaman juga sulit dijelaskan karena tidak ada satu kejadian besar yang dapat ditunjuk. Yang ada mungkin banyak hal kecil yang terjadi berulang kali. Satu percakapan tidak tampak penting. Satu kekecewaan masih dapat dimaklumi. Satu hari yang melelahkan juga biasa. Tetapi sesuatu yang kecil dapat menjadi berarti ketika terus terjadi dalam pola yang sama.
Itulah sebabnya kita kadang tahu ada sesuatu yang tidak baik tanpa mampu menunjuk satu peristiwa sebagai alasannya. Kita tidak sedang mengada-ada hanya karena tidak mempunyai satu kejadian yang cukup besar untuk dijadikan bukti.
Kadang yang berubah bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi cara kita melihatnya. Sesuatu yang dulu kita yakini mungkin tidak lagi tampak sama. Pilihan yang dulu kita inginkan mungkin sekarang membuat kita ragu. Orang yang dulu kita percaya mungkin sekarang kita lihat dengan cara berbeda. Itu tidak selalu berarti diri kita yang dulu salah.
Kita dapat berubah setelah mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui. Diri yang dulu dapat sungguh-sungguh percaya, dan diri yang sekarang dapat sungguh-sungguh melihatnya secara berbeda. Keduanya tidak harus dipaksa menjadi satu cerita yang sempurna.
Sulit menjelaskan diri juga dapat terjadi ketika kita merasa tidak berhak merasakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Kita berkata bahwa seharusnya kita bersyukur, seharusnya lebih kuat, seharusnya tidak terlalu memikirkan hal kecil. Sebelum memahami perasaan itu, kita sudah lebih dahulu mengadilinya.
Padahal mengetahui apa yang kita rasakan dan menilai apakah kita boleh merasakannya adalah dua hal yang berbeda. Kita dapat bersyukur dan tetap lelah. Mencintai seseorang dan tetap terluka. Mempunyai banyak hal baik dalam hidup dan tetap mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak baik.
Ada keadaan lain ketika sebenarnya kata-katanya sudah mulai ada, tetapi mengucapkannya terasa berisiko. Mengakui sesuatu kepada diri sendiri kadang membawa konsekuensi. Setelah kita berkata, “Ya, ini memang menyakitkan,” atau “Saya sebenarnya tidak ingin seperti ini terus,” mungkin akan muncul pertanyaan berikutnya: lalu apa yang harus saya lakukan?
Karena itu, tidak semua kebingungan berarti kita benar-benar tidak tahu. Kadang kita mulai tahu, tetapi belum siap menghadapi arti dari apa yang kita ketahui.
Perbedaan itu penting. “Saya belum tahu” tidak selalu sama dengan “Saya tahu, tetapi saya belum siap mengatakannya.” Kita tidak perlu memaksa diri memilih salah satunya terlalu cepat. Cukup memperhatikan mana yang lebih dekat dengan keadaan kita sekarang.
“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya” sendiri dapat menjadi jawaban yang jujur. Kita sering ingin segera menggantinya dengan penjelasan yang lebih matang: ini penyebabnya, ini perasaan saya, ini keputusan saya. Padahal ketiga hal itu tidak selalu datang pada waktu yang sama.
Kita mungkin sudah tahu bahwa sesuatu berat tetapi belum tahu kenapa. Kita mungkin sudah memahami penyebabnya tetapi belum tahu apa yang ingin dilakukan. Kita mungkin sudah membuat keputusan dan masih belum memahami seluruh perasaan yang menyertainya. Kejelasan dapat datang sedikit demi sedikit.
Kadang bahasa baru muncul ketika kita mencoba bercerita. Bukan karena orang lain memberi jawaban, tetapi karena kita mendengar kalimat kita sendiri untuk pertama kalinya. Penelitian tentang memberi nama pada emosi memberi petunjuk bahwa ketika pengalaman mulai dapat diberi nama, cara kita memprosesnya juga dapat berubah. Sesuatu yang sebelumnya hanya ada sebagai rasa perlahan mulai mempunyai bentuk.
Mungkin yang keluar hanya, “Saya capek terus menjadi orang yang mengerti.” Atau, “Saya tidak ingin kembali, tetapi saya masih kehilangan sesuatu.” Atau, “Saya kira yang saya rindukan bukan keadaannya. Saya rindu diri saya ketika hidup masih seperti itu.”
Kalimat seperti itu tidak selalu menyelesaikan masalah. Tetapi ia dapat membuat satu bagian pengalaman menjadi lebih jelas.
Percakapan yang baik tidak harus segera menghasilkan kesimpulan. Kadang yang paling membantu justru ruang untuk mengatakan bagian yang sudah kita tahu tanpa dipaksa menjelaskan seluruhnya. Cerita tidak harus urut. Perasaan tidak harus langsung masuk akal. Satu bagian yang jujur sudah cukup untuk memulai.
Sebaliknya, jawaban yang datang terlalu cepat kadang membuat kita menjauh dari pengalaman sendiri. Nasihat, penilaian, atau kesimpulan orang lain mungkin terdengar lebih rapi daripada apa yang kita miliki. Karena masih bingung, kita mudah memakai penjelasan mereka sebelum sempat mengetahui apakah penjelasan itu benar-benar milik kita.
Menulis juga dapat membantu dengan cara yang sama. Bukan untuk menemukan jawaban yang benar, tetapi untuk melihat apa yang terus muncul. Kadang satu kalimat sederhana sudah cukup: “Yang paling berat bagi saya akhir-akhir ini adalah...” atau “Hal yang belum berani saya katakan adalah....”
Namun tidak semua hal perlu dianalisis sampai menemukan makna yang lebih dalam. Kadang kita memang hanya lelah. Kadang sebuah hari buruk hanya sebuah hari buruk. Kita tidak harus menjadikan setiap perubahan suasana hati sebagai pesan yang harus dipecahkan.
Yang lebih layak diperhatikan biasanya adalah sesuatu yang terus kembali. Reaksi yang berulang. Situasi berbeda yang menghasilkan rasa yang sama. Pikiran yang terus muncul meskipun sudah kita abaikan. Pola tidak selalu memberi jawaban, tetapi dapat menunjukkan bagian mana yang perlu dilihat lebih lama.
Setelah kita melihatnya lebih lama, penjelasan kita masih boleh berubah. Sesuatu yang hari ini kita sebut marah mungkin kemudian kita pahami sebagai duka. Sesuatu yang sekarang kita anggap kegagalan mungkin suatu hari terlihat sebagai batas yang akhirnya kita sadari. Seseorang yang kita rindukan mungkin ternyata juga mewakili masa hidup tertentu yang ikut hilang bersamanya.
Berubahnya penjelasan tidak berarti kita berbohong sebelumnya. Kita memahami hidup dari apa yang dapat kita lihat pada saat itu. Ketika mengetahui lebih banyak, cara kita memahami masa lalu juga dapat berubah.
Karena itu, “Saya belum tahu” tidak harus dianggap sebagai kegagalan. Kadang itu memang jawaban yang paling tepat. Ia memberi kita ruang untuk tidak membuat kesimpulan sebelum mempunyai cukup pengalaman, cukup jarak, atau cukup keberanian untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi memberi waktu bukan berarti mengabaikan sesuatu yang terus membuat hidup semakin sulit. Jika tidur terus terganggu, tubuh hampir selalu tegang, hari-hari semakin sulit dijalani, sebuah hubungan terasa tidak aman, atau kita mulai takut terhadap apa yang mungkin kita lakukan kepada diri sendiri atau orang lain, kita tidak perlu menunggu sampai mempunyai penjelasan yang sempurna untuk mencari bantuan.
Kita boleh datang dengan cerita yang belum selesai. Kita boleh berkata, “Saya tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Saya hanya tahu saya tidak seperti biasanya.” Itu sudah cukup untuk memulai percakapan dengan seseorang yang dapat membantu.
Untuk keadaan yang tidak mendesak, mungkin yang dibutuhkan hanya sedikit ruang dan perhatian. Tidak untuk segera memperbaiki semuanya. Tidak untuk memaksa diri menemukan nama yang tepat. Hanya untuk melihat apa yang terjadi tanpa langsung membantah, mengecilkan, atau menghakiminya.
Kadang setelah cukup lama, satu kalimat akhirnya terasa benar. “Saya sudah terlalu lama bertahan.” “Saya sebenarnya tidak merasa aman.” “Saya kehilangan sesuatu yang belum pernah saya akui sebagai kehilangan.” “Saya tidak ingin hidup seperti ini terus.” “Saya rindu diri saya sendiri.”
Kalimat itu belum tentu memberi tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Tetapi sekarang kita mengetahui sesuatu yang sebelumnya hanya dapat kita rasakan.
Mungkin itulah yang paling penting ketika sesuatu sulit dijelaskan. Bukan menemukan kata yang sempurna, melainkan berhenti menganggap ketiadaan kata sebagai bukti bahwa pengalaman itu tidak ada.
Jika hari ini yang tersedia baru satu kalimat, satu kalimat itu boleh cukup.
“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
Itu tidak selalu berarti percakapan berhenti. Kadang justru dari sana kita mulai benar-benar mendengar apa yang sedang terjadi.